AUTENTIKWOMAN.Com– Sekitar 90 menit sebelum tenggat waktu Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, Washington dan Teheran mengumumkan bahwa para pihak menangguhkan serangan mereka selama dua minggu.
Iran, tetap terbuka Selat Hormuz untuk perjalanan yang aman selama periode yang sama, “berkoordinasi dengan angkatan bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan kendala teknis.”
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa Amerika Serikat, Iran dan negara-negara dan kelompok sekutu telah menyetujui gencatan senjata “di mana-mana”, termasuk di Lebanon.
Trump mengumumkan kemarin pukul 18:32 waktu Washington di platform Truth Social bahwa dia menyetujui penangguhan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Trump sebelumnya telah memberi Iran waktu hingga pukul 20:00 Washington untuk mencapai kesepakatan dan mengancam serangan skala besar terhadap infrastruktur Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, menjelang penangguhan.
Trump memuji peran Pakistan dalam mengamankan penangguhan, menyatakan bahwa dia menyetujuinya “dengan syarat bahwa Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman Selat Hormuz.”
Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, dalam laporan terbarunya bertajuk CIO Market Pulse, dunia kini disebut tengah menghadapi situasi yang disebut perang di atas diplomasi.
Dia menjelaskan, eskalasi yang melibatkan AS dan Israel ini membawa risiko yang jauh lebih besar dibandingkan konflik-konflik sebelumnya.
Salah satu kekhawatiran terbesar yang disoroti adalah penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan. Menurut dia, jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang melayani seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global. “Jika penutupan total terjadi, harga minyak bisa meroket ke kisaran 100 hingga 150 dollar AS per barrel,” tulis laporan tersebut.
Dia menambahkan, lonjakan harga energi ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia akan memicu ekspektasi inflasi yang tinggi secara global. Di sisi lain, hal ini akan mengunci tangan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), sehingga tidak memiliki ruang untuk memangkas suku bunga.
Ujung-ujungnya, kondisi tersebut membuat risiko resesi global menjadi tak terelakkan. Kontras Sektor Keuangan dan Tantangan AI Di tengah awan mendung geopolitik, Wey Fook bilang, sektor perbankan AS sebenarnya mencatatkan performa gemilang. Sepanjang tahun 2025, laba bersih perbankan Negeri Paman Sam mencetak rekor 295,6 miliar dollar AS.
S







