AUTENTIKWOMAN.Com– Film sinema “Sinonim” (Synonyms) karya Nadav Lapid, sutradara Zionis, dengan narasi pelarian seorang mantan warga rezim Israel dari identitasnya, mengungkap krisis identitas yang dalam, kekerasan militerisme yang terlembagakan, dan kebencian terhadap diri sendiri di Israel.
Film “Sinonim” (Synonyms) yang disutradarai Nadav Lapid, yang pada tahun 2019 berhasil meraih Golden Bear di Festival Film Berlin, diakui sebagai salah satu contoh paling gamblang dari sinema kritis intra-diskursif rezim Zionis. Karya semi-otobiografi ini berkisah tentang seorang pemuda Israel bernama Yoav yang, segera setelah menyelesaikan wajib militer, meninggalkan wilayah pendudukan menuju Paris. Di Prancis, ia memulai upaya putus asa untuk sepenuhnya menyangkal identitas Israelnya dan diterima sebagai warga negara Prancis.
Simbolisme Ketelanjangan dan Pelarian dari IdentitasFilm dimulai dengan metafora kuat tentang ketelanjangan tokoh utama; sebuah adegan di mana Yoav terbangun di apartemen kosong di Paris dan mendapati semua pakaiannya dicuri. Ketelanjangan ini melambangkan “kekosongan identitas” dan upaya untuk melepaskan cangkang Israel yang dianggapnya menjijikkan.
Lapid dengan gambaran ini memulai perjalanan di mana tokoh utama berusaha membangun kembali secara fundamental emosi dan persepsinya tentang dunia, sebuah perjalanan yang pada akhirnya berujung pada kegagalan. Adegan lain, pencurian lukisan dari toko oleh Yoav, ditafsirkan sebagai simbol pencurian budaya dan identitas; sebuah tindakan yang menurut para kritikus, berakar pada fondasi moral masyarakat yang dibangun di atas perampasan dan penguasaan.
Keterusterangan dalam Mengekspresikan Kebencian terhadap Sistem MiliteristikPuncak kritik internal dalam film ini tampak dalam dialog-dialog langsung Yoav dengan kamera, di mana ia menggambarkan masyarakat asalnya dengan sifat-sifat seperti “menjijikkan, sombong, busuk, dan berkarakter buruk.” Besarnya kebencian yang diungkapkan oleh mantan warga Israel ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang budaya militerisme dan struktur sosial yang menguasai rezim Zionis.
Yoav dalam salah satu dialog kuncinya dengan tegas mengatakan, Israel akan mati dan lenyap sebelum aku, sebuah kalimat yang menurut para analis, mencerminkan ketidakpercayaan generasi muda terhadap masa depan entitas ini. Upayanya untuk “menjadi Prancis sepenuhnya” melalui pembelajaran kosakata secara paksa, menikah dengan wanita Prancis, dan menyanyikan lagu kebangsaan Prancis (La Marseillaise) dengan penuh semangat, semuanya merupakan tanda-tanda upaya melarikan diri dari masa lalu yang dirasakannya tak tertahankan.
Sinema Goyah di Hadapan Realitas yang RuntuhPenggunaan luas kamera genggam dengan gerakan kacau dan goyah di sepanjang film, mentransfer rasa ketidakstabilan dan trauma psikologis tokoh utama kepada penonton. Gaya visual yang gugup ini, di samping kilas balik berulang ke masa dinas militer Yoav di ketentaraan rezim Zionis, menampilkan gambaran kekerasan mentah dan budaya militerisme.
Adegan Akhir; Penolakan dan Keterasingan MutlakDi adegan akhir film, Yoav ditolak oleh istri Prancisnya dan, di tengah dingin dan hujan Paris, mengetuk pintu-pintu yang tertutup.
Dalam adegan sebelumnya, Lapid dengan artistik menggambarkan perpindahan biola (simbol musik dan kehidupan) dengan senjata (simbol kematian) yang mencerminkan transformasi budaya hidup menjadi kehancuran di masyarakat Israel. “Sinonim” pada akhirnya menggambarkan nasib manusia yang tidak tetap menjadi orang Israel dan tidak diterima sebagai orang Prancis; tanpa identitas dan terombang-ambing.
Film ini, sebagai dokumen sinematik, mengungkap kebencian internal terhadap diri sendiri dan krisis legitimasi dalam Zionisme, dan menunjukkan bahwa bagi sebagian anak rezim ini, kebencian dan keputusasaan telah menjadi sinonim yang tak terpisahkan dari identitas Zionis.












