TREND GLOBAL: RAMAI-RAMAI INGIN JADI SYIAH

Mengapa dalam waktu singkat begitu banyak orang tiba-tiba tertarik menjadi Syiah? Lebih dari sekadar ketertarikan, yang terjadi adalah fenomena keserentakan. Banyak orang secara bersamaan menyatakan keinginan untuk memeluk Syiah, menghubungi untuk belajar, bertanya, bahkan mencari jalan untuk masuk ke dalamnya. Arus ini muncul serempak, tanpa koordinasi, tanpa kampanye terbuka. Ia lahir dari benturan antara informasi yang selama ini tertutup dengan realitas yang tak lagi bisa disembunyikan.

Fenomena ini menguak satu kenyataan: adanya kekosongan pengetahuan yang terlalu lama dibiarkan. Informasi tentang Syiah tidak hadir secara utuh. Ia dipotong, disaring, dan dalam banyak hal dipelintir. Ketika realitas berbicara tanpa perantara—seperti perlawanan terhadap Amerika dalam beberapa hari terakhir yang berada di luar dugaan banyak pihak, bahkan melampaui prediksi yang bersumber dari Trump—apa yang selama ini diyakini mulai kehilangan pijakan. Orang tak lagi perlu berdebat panjang tentang posisi dan kekuatan Syiah, karena realitas telah tampil sebagai argumen yang berdiri sendiri. Reaksi yang muncul bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan lonjakan kesadaran yang datang serempak dan tanpa persiapan.

Namun dalam konteks ini, ada hal yang harus ditegaskan dengan jernih. Tidak perlu menjadi Syiah untuk mengetahui bahwa Amerika adalah kekuatan penjajah. Tidak perlu menjadi Syiah untuk memahami bahwa Israel adalah entitas yang merusak. Tidak diperlukan perubahan identitas mazhab untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Demikian pula, tak diperlukan perdebatan panjang untuk memahami bahwa Syiah shalat, berhaji, dan menjalankan kewajiban agama. Bahwa mereka membela saudara-saudara Sunni, mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain, tidak ekstrem, dan berada di garis depan dalam menghadapi ISIS. Fakta-fakta ini berdiri sebagai kenyataan yang terverifikasi, tanpa perlu konstruksi tambahan.

Di titik ini, fenomena yang terjadi harus ditempatkan secara proporsional. Ketertarikan yang lahir dari terbukanya fakta adalah sesuatu yang bisa dipahami. Namun menjadikannya sebagai dasar untuk menentukan identitas merupakan lompatan yang tak memiliki landasan intelektual yang memadai. Sebab menjadi Syiah bukan sekadar menerima informasi baru atau mengoreksi persepsi lama. Menjadi Syiah berarti memasuki sebuah bangunan keyakinan yang utuh—dengan struktur ideologis, teologis, dan epistemologis yang kokoh. Tanpa kepuasan intelektual—yakni pemahaman yang tuntas dan penerimaan yang rasional—seseorang akan mudah goyah ketika berhadapan dengan aspek-aspek yang belum ia pahami atau belum siap ia terima.

Dalam posisi ini, jalan yang lebih jernih justru sederhana: tidak menjadi Syiah tetapi mampu menerima Syiah lebih kokoh daripada menjadi Syiah tanpa kesiapan terhadap konsekuensinya. Penerimaan tak menuntut totalitas internal, sementara menjadi bagian dari sebuah mazhab menuntut konsistensi yang tak bisa ditawar. Setiap keyakinan membawa konsekuensi. Ia bukan sekadar keputusan untuk berpindah dan menyatakan diri sebagai penganut. Keyakinan menuntut kesediaan untuk hidup di dalamnya—menerima prinsip-prinsipnya, tunduk pada kerangka otoritasnya, dan konsisten dalam ekspresinya.

Syiah adalah mazhab ideologis yang menjadikan perlawanan terhadap kezaliman sebagai bagian dari ekspresi kepatuhan kepada otoritas transenden. Prinsip ini bukan slogan, melainkan konsekuensi logis dari struktur keyakinannya. Ia menuntut keberanian sekaligus disiplin. Di sinilah muncul tuntutan yang tak mudah dijalani: kesiapan untuk tidak mengedepankan pandangan sendiri ketika berhadapan dengan otoritas yang harus diterima dan dipatuhi. Ini bukan penolakan terhadap akal, melainkan penempatan akal dalam kerangka yang diakuinya sendiri. Tanpa kepuasan intelektual, posisi ini akan terasa sebagai tekanan. Dengan kepuasan intelektual, ia menjadi konsekuensi yang dipahami dan dijalani dengan sadar.

Karena itu, penting untuk membedakan antara ketertarikan dan keputusan identitas. Ketertarikan adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Tidak setiap orang yang memahami kebenaran tertentu harus segera menjadikannya sebagai identitas. Ada jarak antara mengetahui, menerima, dan menghidupi. Kesiapan menjadi penentu. Tanpa kesiapan, keyakinan akan menjadi beban. Dengan kesiapan, keyakinan menjadi jalan yang dijalani dengan kesadaran penuh.

Fenomena keserentakan yang sedang berlangsung dapat membuka ruang pencarian yang lebih jujur. Ia bisa menjadi awal dari proses intelektual yang serius. Namun tanpa ketenangan berpikir dan kedalaman pemahaman, apa yang tampak sebagai kebangkitan hanya akan berhenti sebagai gelombang sesaat. Kesiapan tidak lahir dari euforia. Kesiapan lahir dari pemahaman yang tuntas dan keputusan yang sadar.

Tulisan: Labib Muhsin (Intelektual Islam)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *