MEMBELA IRAN UNTUK MELAWAN IMPERIALISME ITU SOAL MACHT (KUASA)

Sehubungan dengan perang yang dihadapi oleh Republik Islam Iran melawan imperialisme ASU dan Zhionhist beberapa kalangan kritis menolak perang sekaligus membongkar seluruh kelemahan dari Iran dalam bahasa yang tajam. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Buat saya kalangan seperti ini yang mendaku kiri tapi terpengaruh oleh logika Kantian tentang kontras hitam putih, salah benar. Mereka menegaskan tidak bela AS tidak bela Iran, hanya bela yang tertindas seperti Palestina.

Argumen begini lupa tentang dialektika power. Siapakah yang hendak menguasai seluruh bumi Palestina? Siapakah yang paling maju pengorbanan harta, material, moral bahkan nyawanya untuk membela Palestina? Apakah tujuan invasi terhadap Iran dan langgengnya penjajahan bagi Palestina, Asia Barat dan bahkan dunia?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak diambil pusing oleh sebagian kalangan yang terjebak dalam logika Kantian dan lupa logika Power, logika dialektika, logika imperialisme.

Bagaimana cara mengambil posisi yang pas dalam keadaan seperti ini? Terung terang, saya berpijak pada metode marhaenisme dari Sukarno. Apa yang Bung Karno jelaskan? Dalam artikelnya di Suluh Indonesia Muda dia menegaskan. Persoalan Imperialisme bukan semata-mata soal hak, tapi yang paling utama adalah soal Macht, soal kuasa dan kepentingannya. Ujungnya ini soal pertarungan yang eksistensial.

Penjelasan Bung Karno menegaskan kaum imperialisme tahu secara normatif negeri-negeri terjajah memiliki hak untuk merdeka. Tapi hal itu tidak akan diberikan, karena ini soal perebutan rejeki, soal ekonomi, soal kaum imperialis akan mengambil lebih banyak untuk kebutuhan kemakmurannya yang dituntut oleh akumulasi modal!

Demikian pula kita kaum terjajah, yang perlu diperjuangkan adalah soal Macht, soal kekuasaan, soal machtvorming (pembentukan formasi kekuasaan) untuk merebut hak kita untuk hidup merdeka!

Apa hubungannya dengan problem imperialisme terhadap Iran, Palestina dan dunia. Ini urusannya bukan hanya soal mana yang memiliki hak. Lebih jauh lagi ini soal Macht! Soal formasi kekuasaan, formasi perjuangan! Kekuatan-kekuatan manakah yang harus digalang dan dirangkul untuk menyelesaikan imperialisme? Disinilah kita melihat posisi Iran, Palestina dan kekuatan-kekuatan anti imperialisme.

Berhubungan dengan pertarungan wacana dan argumen. Ketika kita lupa menyodorkan kemajuan-kemajuan konkret dari Republik Islam Iran dalam emansipasi perempuan. Bagaimana orang miskin hidupnya dimuliakan secara material dan rohani ditengah blokade ekonomi yang mencekik mereka. Dan itu semua valid bukan omon-omon.

Jangan-jangan kita tidak memberikan sumbangan total bagi perlawanan  terhadap imperialisme. Kita lupa memberikan argumen utama tentang perkara eksistensial kemerdekaan, soal mengapa Iran, Palestina dan kita semua tidak boleh tunduk terhadap ASU!

Ini soal Macht!

Tulisan Pakar Ilmu Politik dari UNAIR Airlangga Pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *