AUTENTIKWOMAN.Com– Menurut laporan situs Al-Ahed dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Hassan Rabbah menyatakan bahwa setelah Revolusi Iran tahun 1979, Amerika Serikat—yang melihat perubahan posisi Iran dari negara yang bergantung menjadi negara yang merdeka—memulai empat dekade upaya untuk menggulingkan sistem politik Iran.
Al-Ahed menambahkan bahwa upaya tersebut mencakup dukungan terhadap kelompok-kelompok teroris dan terhadap Saddam Hussein dalam perang yang dipaksakan terhadap Iran, penerapan sanksi ekonomi yang melumpuhkan, serta pengarahan berbagai kerusuhan domestik, termasuk protes pada tahun 2009, 2011, 2022, serta aktivitas separatis di Kurdistan pada tahun 2026.
Media Arab itu menegaskan bahwa pada tahun 2025 dan 2026, konfrontasi tersebut berkembang menjadi perang militer langsung. Namun demikian, luasnya wilayah geografis Iran, kemandirian pertahanan, persatuan nasional, serta aliansi dengan kekuatan-kekuatan Timur telah menggagalkan rencana Washington dan Tel Aviv. Kini Iran tetap berdiri teguh, sementara Amerika Serikat dan Israel terjebak dalam perangkap strategis yang tidak mampu mereka lepaskan.
Amerika Serikat dan rezim Zionis pada 9 Esfand 1404 (28 Februari 2026) melancarkan agresi terhadap wilayah Iran yang menyebabkan syahidnya Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, bersama sejumlah pejabat militer senior dan warga sipil. Lebih dari 170 pelajar juga dilaporkan tewas dalam pemboman sebuah sekolah di Minab oleh Amerika Serikat.
Iran, dalam kerangka hak sah untuk membela diri, kemudian menargetkan wilayah-wilayah pendudukan Israel serta pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, dan menghalangi kapal-kapal yang terkait dengan Tel Aviv dan Washington untuk melintasi Selat Hormuz.
Kelompok-kelompok perlawanan di Irak dan Lebanon juga terlibat dalam menghadapi agresi musuh Zionis dan Amerika sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Sebelumnya, gerakan perlawanan Yaman juga menyatakan bahwa mereka akan bergabung dalam operasi tersebut pada waktu yang dianggap tepat.
Perang di kawasan Asia Barat serta pembatasan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz telah memperburuk krisis energi global.












