AUTENTIKWOMAN.Com– Dalam pertemuan dengan Panglima Militer Pakistan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap tegas “Perdamaian, kerja sama regional, dan perlawanan terhadap konspirasi Zionis”.
Mediasi Pakistan Terus Bergulir
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pertemuan dengan Field Marshal Asim Munir, Panglima Militer Pakistan, Kamis malam, 16 April 2026, mengapresiasi peran aktif Islamabad dalam memediasi gencatan senjata serta memfasilitasi dialog antara Tehran dan Washington.
Pertemuan yang berlangsung di Tehran ini menjadi babak baru dalam diplomasi regional pascaperang. Pezeshkian menyampaikan terima kasih kepada Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Asim Munir atas upaya mereka menenangkan kawasan.
“Kami Ingin Perdamaian, Bukan Perang”
Pezeshkian menegaskan bahwa sejak awal masa jabatannya, fokus utama pemerintahannya adalah memperkuat persaudaraan dan kerja sama, baik di dalam negeri maupun dengan negara-negara tetangga.
“Namun sejak awal pula, kami menyaksikan tindakan permusuhan dan provokasi dari Amerika dan rezim Zionis,” tegasnya.
Meskipun demikian, Pezeshkian menegaskan Iran tidak mencari ketidakstabilan di kawasan. Sebaliknya, Tehran ingin memperluas hubungan persaudaraan dengan negara-negara tetangga dan kawasan.
“Serangan ke Iran, Tanpa Alasan yang Jelas”
Dengan nada tegas, Presiden Iran mempertanyakan dasar hukum dan moral dari agresi ilegal AS dan Zionis terhadap negaranya.
“Serangan yang menyebabkan gugurnya Pemimpin besar kami, penghancuran sekolah dan rumah sakit, serta pembantaian anak-anak dan warga tak berdosa, dengan izin siapa dan atas dasar apa semua ini dilakukan?”
Dia juga mengingatkan ketidakpercayaan rakyat Iran terhadap AS akibat ingkar janji, serangan saat negosiasi berlangsung, dan teror terhadap para pejabat.
“Meski begitu, kami melangkah dengan bersandar pada hubungan persaudaraan dengan negara-negara sahabat, termasuk Pakistan. Tentu saja, hak-hak bangsa kami akan kami perjuangkan dengan tegas.”
“Negara Islam Bisa Seperti NATO”
Salah satu poin menarik dari pidato Pezeshkian adalah usulannya agar negara-negara Islam membangun kerja sama keamanan mandiri, seperti NATO di Eropa.
“Mengapa negara-negara kawasan tidak bisa mengelola keamanan mereka sendiri?” tanyanya.
Menurutnya, dengan mengandalkan kesamaan agama dan budaya, negara-negara Islam dapat menyelesaikan masalah mereka melalui mekanisme kolektif, tanpa perlu campur tangan asing.
Dia juga menyalahkan konspirasi Zionis sebagai akar ketidakstabilan. “Jika umat Islam bersatu, Zionis tak akan bisa menyeret kawasan ke dalam perang.”
Panglima Pakistan: Perang Tak Akan Mengembalikan Keadaan Seperti Dulu
Field Marshal Asim Munir menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Pemimpin Besar Revolusi Islam, para komandan, dan warga Iran.
Dia meyakini bahwa meskipun perang suatu hari akan berakhir, kawasan tak akan pernah kembali seperti sediakala. “Karena itu, semua negara harus bekerja sama dalam rekonstruksi dan stabilitas.”
Munir juga menyebut dukungan Tiongkok, Arab Saudi, Mesir, dan Turki terhadap proses diplomatik selama krisis ini. “Hubungan antarnegara diuji di masa perang, bukan saat damai. Kunjungan ini adalah bukti ketulusan persahabatan kita.”
Dia optimistis kesepakatan damai bisa segera tercapai. “Perang hanya membawa kehancuran dan kerugian. Kami akan terus berupaya hingga titik akhir.”
Pada akhirnya, Iran ingin damai. Namun bukan damai dengan menundukkan kepala di atas meja yang sama dengan agresor. Dukungan Pakistan, pengertian Tiongkok, dan keterlibatan negara-negara kawasan mulai menciptakan harapan.
Apakah ini awal dari tatanan keamanan baru yang digerakkan oleh negara-negara Muslim sendiri? Mungkin. Yang pasti, Zionis dan sekutunya tak akan senang.
Namun itu risiko yang harus dihadapi, demi perdamaian sejati, bukan gencatan senjata sementara






