AUTENTIKWOMAN.Com– Harian Guardian dalam laporannya menulis bahwa Donald Trump saat ini lebih membutuhkan kesepakatan damai dengan Tehran dibandingkan sebelumnya. Tanpa kompromi nyata dari Washington, tidak ada prospek bagi kebangkitan diplomasi.
Melaporkan dari IRNA, Sabtu, 18 April 2026, Guardian menulis bahwa kegagalan putaran pertama negosiasi Iran-AS di Pakistan, mengingat perbedaan mencolok antara proposal 15 poin Washington dan rencana 10 poin Tehran, sama sekali tidak mengejutkan. Negosiasi pada dasarnya memakan waktu, sebagaimana akar kesepakatan 2015 antara Tehran dan Washington juga berawal dari upaya yang dimulai pada 2003.
Vance Bukan dalam Posisi Mendikte
Dalam artikel yang ditulis Rajan Menon, peneliti senior di Saltzman Institute of War and Peace Studies, Columbia University, disebutkan bahwa dalam negosiasi Iran-AS, kita menyaksikan penjelasan Wakil Presiden J.D. Vance tentang kegagalan pertemuan tersebut, bahwa Iran menolak persyaratan yang diajukan AS. Pihak Amerika tidak dalam posisi untuk mendikte persyaratan.
Setelah Vance kembali, Trump, seperti biasa, segera bergerak cepat. Ia mengumumkan blokade laut terhadap Iran dan semua kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan Iran, membuat situasi semakin kritis.
Guardian, menggambarkan blokade laut sebagai “tindakan perang”, menekankan bahwa situasi dengan cara ini menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya.
Mengapa Kedua Pihak Menghindari Perang Lagi?
Penulis kemudian mengajukan pertanyaan tentang langkah selanjutnya. Untungnya, baik Iran maupun AS belum menolak negosiasi ulang. Sementara itu, Pakistan dan Mesir, sebagai mediator, terus bekerja di belakang layar untuk membangun jembatan antara Tehran dan Washington.
Tehran dan Washington masing-masing memiliki alasan untuk menghindari perang lagi. Di satu sisi, Trump tahu bahwa perang yang berkepanjangan berarti inflasi yang lebih tinggi di AS dan popularitas yang lebih rendah menjelang pemilu paruh waktu November 2026.
Di sisi lain, meskipun Iran bertahan dalam serangan terbaru AS dan Israel, mereka menderita banyak kerusakan. Jika perang dilanjutkan, kerusakan akan semakin parah dan rekonstruksi akan semakin sulit.
Kerangka Kerja untuk Diplomasi
Menon mengusulkan kerangka kerja untuk diplomasi baru antara Iran dan AS:
AS harus mengakui hak Iran sebagai penanda tangan NPT untuk pengayaan uranium.
Sebagai imbalan, Iran membatasi pengayaan hingga 3,67 persen di bawah pengawasan IAEA, membongkar kaskade sentrifugal, dan menghentikan semua pengayaan di atas batas yang diusulkan selama lima tahun, tanpa menerima tuntutan Washington untuk moratorium 20 tahun.
Mengenai stok uranium yang diperkaya Iran, Trump dapat menyetujui pengenceran di bawah pengawasan alih-alih memaksa ekspor penuh. Kesepakatan pengayaan dapat berlangsung selama 20 tahun dan dapat diperpanjang.
Iran harus memberikan komitmen tertulis untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sesuai dengan arahan pemimpin syahid Iran.
Iran harus melepaskan tuntutan ganti rugi perang. Sebagai gantinya, AS mencabut semua sanksi primer dan sekunder serta membekukan aset Iran. Biaya transit melalui Selat Hormuz dapat dibagi dengan Oman.
Pact Non-agresi dan Peringatan tentang Israel
Menon juga mengusulkan agar AS dan Iran menandatangani pakta nonagresi yang diratifikasi oleh legislatif mereka dan dimasukkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB.
Iran melepaskan tuntutan yang tidak realistis untuk penarikan penuh pasukan AS dari Timur Tengah, tetapi pakta non-agresi akan mengkompensasi konsesi ini.
Pada akhirnya, tiga syarat harus dipenuhi agar rencana ini, atau rencana lainnya, dapat diterima:
– Washington harus berkompromi, bukan hanya Iran.
– Trump harus memperpanjang tenggat waktu gencatan senjata dengan Iran yang berakhir 22 April, dan mengakui bahwa negosiasi akan memakan waktu.
– Serangan Israel terhadap Iran dapat menggagalkan segalanya. Trump harus mencegah Netanyahu dari tindakan apa pun terhadap Iran.
Trump butuh kesepakatan, lebih dari yang ia tunjukkan. Inflasi mengancam kursi Republik, sekutu ragu, dan dunia lelah dengan perang yang tidak pernah diminta. Namun di sisi lain, Iran juga butuh kepastian, tanpa harus menyerahkan harga diri dan kedaulatan atas sumber dayanya sendiri.
Jalan tengah ada, tetapi membutuhkan kompromi nyata dari Washington, bukan sekadar ancaman dan blokade.
Satu hal yang pasti: selama Netanyahu masih bisa mempengaruhi Trump, api bisa menyala kembali kapan saja. Dan jika itu terjadi, bukan Iran yang akan rugi paling besar











