AUTENTIKWOMAN.Com– Ketika para pejabat Republik Islam Iran menegaskan pentingnya mendengarkan suara para pengunjuk rasa, Donald Trump pada Minggu, 4 Januari 2026, dalam percakapannya dengan para wartawan di pesawat kepresidenan AS, kembali memperingatkan Iran terkait penggunaan kekerasan terhadap para demonstran. Dalam beberapa hari terakhir, menyusul fluktuasi harga—terutama nilai tukar mata uang—dan kondisi ekonomi, sejumlah aksi protes terjadi di Iran.
Pernyataan intervensionis Donald Trump tersebut disampaikan di saat para pejabat Republik Islam Iran, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa penghormatan terhadap rakyat dan mendengarkan tuntutan mereka merupakan prinsip utama dalam tata kelola pemerintahan.
Trump sebelumnya juga telah mempublikasikan pernyataan dukungan terhadap para pengunjuk rasa di Iran melalui platform media sosialnya, Truth Social. Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS juga mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Iran dengan dalih upaya pembangunan kembali fasilitas nuklir dan penguatan kemampuan rudal pascaperang 12 hari, serta dengan dalih mendukung para demonstran di Iran.
Menanggapi klaim dan ancaman Presiden AS tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, menyebut pernyataan Trump sebagai “ceroboh dan berbahaya”.
Dia mengatakan bahwa sikap tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang menentang diplomasi atau menganggapnya tidak perlu. Araghchi menegaskan bahwa bangsa besar Iran, sebagaimana di masa lalu, akan dengan tegas menolak segala bentuk campur tangan dalam urusan dalam negeri mereka.
Dia juga menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga dan mengetahui secara tepat target yang akan disasar apabila kedaulatan Iran dilanggar.
Klaim terbaru Trump yang mengatasnamakan dukungan terhadap rakyat Iran disampaikan oleh sosok yang, setelah keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA pada Mei 2018, menerapkan kebijakan tekanan maksimum dan menjatuhkan sanksi paling luas terhadap Iran. Pada masa jabatan keduanya, dia kembali menjalankan kampanye tekanan maksimum dan, dengan dukungan langsung terhadap rezim Zionis dalam perang 12 hari, terlibat dalam pemboman fasilitas nuklir Iran. Tampaknya tujuan utama pernyataan terbaru Trump adalah memicu ketidakstabilan, mendorong berlanjutnya aksi protes, serta menghasut tindakan kekerasan dan perusakan.
Pada saat yang sama, pernyataan Presiden AS mengenai kepeduliannya terhadap rakyat Iran tidak dapat dipisahkan dari rekam jejak kebijakan dan perilakunya terhadap Iran. Ketika seseorang yang selama masa jabatannya berulang kali menjatuhkan tekanan ekonomi, politik, bahkan ancaman militer terhadap suatu bangsa, kemudian mengklaim dirinya peduli, klaim tersebut lebih menyerupai kontradiksi nyata daripada sikap yang tulus. Menilai klaim ini menuntut peninjauan kembali catatan kebijakannya terhadap Iran.
Selama masa kepresidenannya, Trump menjalankan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran. Kebijakan ini mencakup sanksi ekonomi luas yang tidak hanya menargetkan pemerintah Iran, tetapi juga kehidupan sehari-hari rakyat. Sanksi tersebut menyebabkan penurunan tajam nilai mata uang nasional, keterbatasan akses terhadap obat-obatan dan kebutuhan pokok, serta meningkatnya kesulitan ekonomi bagi jutaan warga Iran. Bagaimana mungkin seseorang yang merancang dan menerapkan kebijakan semacam itu kini mengklaim dirinya peduli terhadap rakyat Iran? Kepedulian sejati tidak sejalan dengan tekanan dan perampasan kebutuhan dasar hidup.
Di sisi lain, dalam kebijakan luar negerinya, Trump secara konsisten berpihak pada Israel. Dukungan tanpa syaratnya terhadap tindakan Israel di kawasan—termasuk ancaman dan serangan terhadap Iran—menunjukkan bahwa kepeduliannya bukan tertuju pada rakyat Iran, melainkan pada kepentingan sekutu regional Amerika Serikat. Keselarasan dengan Israel dalam menekan Iran, khususnya di bidang militer, secara nyata mengancam keamanan dan ketenangan rakyat Iran. Dengan demikian, klaim kepedulian Trump lebih menyerupai alat propaganda dan politik ketimbang sebuah realitas.
Pernyataan-pernyataan intervensionis Trump juga mencerminkan pandangan yang tidak tulus terhadap bangsa Iran. Dia berulang kali berupaya menciptakan jurang antara rakyat dan pemerintah Iran untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan Washington. Ucapan semacam ini bukan lahir dari kepedulian, melainkan dari upaya mencapai tujuan politik dan geopolitik Amerika Serikat di kawasan. Kepedulian sejati menuntut penghormatan terhadap kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri bangsa-bangsa, bukan campur tangan dalam urusan internal mereka.
Poin penting lainnya adalah kecenderungan Trump menggunakan bahasa ancaman. Ancaman serangan militer atau peningkatan sanksi tidak pernah dapat dianggap sebagai tanda kepedulian. Pendekatan semacam itu hanya menambah tekanan psikologis dan ekonomi terhadap rakyat serta menciptakan suasana ketidakstabilan. Jika Trump benar-benar peduli terhadap rakyat Iran, seharusnya dia memilih jalur dialog dan keterlibatan konstruktif, bukan ancaman dan sanksi.
Secara keseluruhan, klaim Trump tentang kepeduliannya terhadap rakyat Iran bertentangan sepenuhnya dengan rekam jejaknya. Kebijakan tekanan maksimum, keberpihakan pada Israel dalam ancaman terhadap Iran, serta pernyataan-pernyataan intervensionis menunjukkan bahwa tujuan utamanya bukanlah mendukung rakyat Iran, melainkan memajukan kepentingan politik dan ekonomi Amerika Serikat beserta sekutunya. Oleh karena itu, klaim tersebut lebih tepat dipandang sebagai pertunjukan politik dalam kerangka tujuan hegemonik Amerika daripada sebagai sikap kemanusiaan yang jujur.
Iran negara yang kaya di Timur Tengah

Sebagai informasi, Iran bisa dibilang negara yang kaya di Timur Tengah yang erat kaitannya dengan minyak dan gas bumi (migas). Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar ke-4 dan cadangan gas alam terbesar ke-2 di dunia.
Lantas, seberapa kaya dan komoditas apa saja yang dimiliki Iran? Berikut adalah posisi ekonomi Iran di kancah global.
Iran memiliki peran penting dalam peta ekonomi global, terutama karena menjadi salah satu produsen dan eksportir terbesar minyak di dunia. Data Administrasi Informasi Energi (EIA), ekspor minyak mentah Iran mencapai 1,29 juta barel per hari (bpd) pada 2023, rekor tertinggi dalam lima tahun.
Produksi minyak mentah Iran menembus 3,163 juta bpd pada Januari 2024. Sementara itu data EIA hanya menyebut 2,93 juta bpd.
Minyak juga menjadi pundi-pundi pendapatan Iran dengan total penerimaan menembus US$ 53 miliar atau sekitar Rp 839,52 triliun (US$1=Rp 15.840) pada periode April 2023/Maret 2024.
Komoditas Unggulan Iran

Iran memiliki beberapa komoditas unggulan yang menjadi tulang punggung ekspornya. Melansir data OEC dan GlobalEdge yang dikutip dari Commodity.com, komoditas-komoditas tersebut diantaranya adalah,
1. Minyak Mentah: Dengan nilai ekspor mencapai US$53 miliar per tahun, minyak mentah menjadi komoditas utama Iran yang berkontribusi penting pada pasar global.
2. Bahan Bakar Minyak: Dengan nilai ekspor sebesar US$1,42 miliar per tahun atau sekitar Rp22,49 triliun. Bahan bakar minyak juga menjadi salah satu komoditas andalan yang diekspor oleh Iran.
3. Gas Petroleum: Dengan nilai ekspor sebesar US$1,16 miliar per tahun atau Rp18,37 triliun, gas petroleum menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi Iran.
4. Besi dan Tembaga: Dengan nilai ekspor masing-masing sebesar US$942 juta dan US$463 juta per tahun, besi dan tembaga juga menjadi kontributor utama dalam ekspor Iran.
5. Produk Polimer Etilen: Dengan nilai ekspor sebesar US$2,66 miliar per tahun atau sekitar Rp42,13 triliun , produk polimer etilen menempati posisi penting dalam portofolio ekspor Iran.
Iran memiliki beberapa tujuan utama ekspor impor ke China sebagai mitra dagang terbesar Iran, dengan nilai ekspor sebesar US$18,9 miliar atau sekitar Rp299,38 triliun dan impor sebesar US$3,47 miliar (Rp54,96 triliun). India, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, dan Italia juga menjadi tujuan ekspor utama Iran.
Sementara itu, dalam hal impor, Iran mengimpor komoditas seperti jagung, beras, kedelai, dan tembakau gulung dengan China sebagai negara asal utama.
Kebahagiaan Rakyat Iran

Sebelumnya diberitakan autentikwoman.com, pada Rabu, 3 Desember 2025, Barat selama bertahun-tahun mengabaikan kebahagiaan orang Iran, dan kini konser-konser besar di Iran tidak dianggap sebagai realitas budaya, melainkan ditafsirkan sebagai bentuk protes politik.
Media Barat yang selama bertahun-tahun menyiarkan berita tentang keputusasaan dan depresi rakyat Iran, tiba-tiba berbalik arah dengan menampilkan kebahagiaan masyarakat Iran, tapi bukan sebagai kenyataan sosial, melainkan sebagai bentuk protes.
New York Times dalam sebuah artikel pada 1 Desember, dengan merujuk pada penyelenggaraan banyak konser di Iran, menyebut fenomena ini sebagai hal baru di Iran. Bahkan dalam judulnya dengan penuh keheranan bertanya, “Apakah ini Iran?” Padahal dalam budaya Iran, musik selama berabad-abad telah menjadi bagian tetap dari perayaan dan upacara nasional maupun keagamaan.
Bahkan mengenai konser, meskipun istilah dan gayanya berasal dari Barat, di Iran konser telah diadakan selama puluhan tahun dan memiliki penggemar tersendiri.
Penyelenggaraan konser dengan gaya baru dimulai setelah berakhirnya perang delapan tahun (tahun 1368 HS/1989 M), dan banyak penyanyi memulai aktivitas mereka dalam bentuk konser.
Dalam hal ini dapat disebutkan nama-nama seperti Mehrdad Kazemi, Dariush Khajeh-Nouri, dan Khashayar Etemadi yang mengadakan konser pertama setelah perang di Iran, dan konser mereka mendapat sambutan luas dari masyarakat.
Musik pop juga sejak dekade 1370-an HS (1990-an M) masuk ke konser-konser Iran. Alireza Assar, yang pada dekade 1370-an dan 1380-an dikenal sebagai salah satu penyanyi berkarakter, menghasilkan karya-karya sukses bersama Fouad Hejazi, dan menjadi salah satu pemegang rekor konser selama tahun-tahun.
Konser pertamanya diadakan di Aula Aburaihan Universitas Shahid Beheshti, dan pada dekade 1370-an ia mencatatkan diri sebagai pemegang rekor dengan 28 konser berturut-turut.
Fakta sejarah ini membantah klaim New York Times bahwa perayaan di Iran terbatas pada masjid. Banyak festival musik Iran selalu diadakan di ruang publik dan pada berbagai kesempatan nasional maupun keagamaan. Perayaan Nowruz di Iran adalah salah satu contoh nyata penyelenggaraan musik dan perayaan dalam berbagai bentuk di seluruh penjuru negeri.
Namun demikian, New York Times dengan penuh insinuasi memberitakan bahwa konser kini “dibebaskan” di kota-kota lain Iran. Padahal Ehsan Khajeh Amiri telah meraih kesuksesan pertamanya 20 tahun lalu dalam konser yang diadakan di Kish.
Dari para bintang dekade 1390-an HS (2010-an M) dapat disebutkan Mohsen Yeganeh, yang pada bulan Ordibehesht 1396 HS (Mei 2017) tampil selama 4 malam berturut-turut dengan 8 sesi, sebuah pencapaian yang jarang terjadi bagi penyanyi lain.
Perlu diingatkan kepada penulis New York Times bahwa salah satu konser penyanyi Iran ini pernah diadakan di aula besar perusahaan Microsoft di Amerika Serikat dan menarik ribuan orang Iran perantauan di Amerika. Apakah orang Iran di Amerika juga belum pernah melihat konser sehingga mereka menyambutnya dengan antusias demikian?
Tentang musik di Iran cukup disebutkan bahwa kota Sanandaj telah terdaftar di UNESCO sebagai “Kota Kreatif Musik.” Apakah hal ini juga merupakan bentuk protes sosial?
Orang Iran senantiasa merupakan bangsa yang penuh kegembiraan, pecinta seni dan musik, dan hal ini adalah bagian dari budaya mereka. Namun kenyataan bahwa Barat selama ini tidak mau melihat kebahagiaan orang Iran atau menyiarkannya, kembali kepada kebijakan anti-Iran mereka.
Kini, setelah semua kampanye pencitraan negatif yang disiarkan media Barat, penulis New York Times yang berhadapan dengan realitas kehidupan penuh kebahagiaan orang Iran, secara sengaja atau tidak berusaha menafsirkannya sebagai reaksi protes, bukan sebagai budaya gembira bangsa Iran.












