Iran: Inggris tidak Memiliki Catatan Lain Selain Perampokan dan Kolonialisme Negara-negara Dunia

AUTENTIKWOMAN.Com- Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Manouchehr Mottaki menanggapi klaim Parlemen Inggris mengenai ancaman keamanan Iran dan penetapan Republik Islam sebagai sebuah bahaya permanen dan tak terduga.

Dia menegaskan bahwa Inggris merupakan ancaman abadi bagi seluruh masyarakat manusia, karena mereka telah membuktikan bahwa selain penindasan, penjarahan, dan kolonialisme terhadap negara-negara lain, mereka tidak memiliki catatan lain.

Mantan Menteri Luar Negeri Iran itu menambahkan, Inggris bersama George Bush, Presiden Amerika Serikat saat itu, dengan dokumen-dokumen palsu dan tanpa izin Dewan Keamanan, menyerang Irak. Dengan rekam jejak seperti itu, mereka tidak berada pada posisi untuk berkomentar mengenai negara lain, dan sebaiknya melihat kembali sejarah penuh kejahatan dan penjarahan mereka serta memperbaiki kebijakan mereka.

Tuduhan Parlemen Inggris terhadap Iran untuk menarik simpati Amerika

Dalam konteks ini, Yaghoub Rezazadeh, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, mengatakan bahwa tuduhan Parlemen Inggris terhadap Republik Islam Iran bertujuan untuk menarik perhatian Amerika, karena Inggris adalah mitra kejahatan Amerika dalam menciptakan ketidakamanan dan menyalakan api peperangan.

Tuduhan Inggris terhadap Iran mencerminkan pengaruh lobi Zionis

Sementara itu, Mohammad Saleh Jokar, Ketua Komisi Urusan Dalam Negeri dan Dewan di Majelis Syura Islam Iran, mengatakan bahwa laporan anti-Iran dari Komite Intelijen dan Keamanan Parlemen Inggris bersumber dari pengaruh lobi Zionis di kalangan politisi negara tersebut.

Jokar menambahkan bahwa tuduhan berulang Inggris dan Barat terhadap Republik Islam menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan pihak Barat untuk menghadapi front kebenaran, yaitu Republik Islam.

Tehran tidak akan berkompromi dalam membela tiga pulau Iran

Berita lainnya, Fada Hossein Maleki, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, menanggapi klaim Uni Emirat Arab (UEA) atas tiga pulau Iran dengan menegaskan bahwa Pulau Abu Musa, Pulau Tunb Besar, dan Pulau Tunb Kecil merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Iran. Dia menekankan bahwa Republik Islam, dalam menjaga kepentingan nasional dan keamanannya, sama sekali tidak akan menunjukkan toleransi.

Kepemilikan Iran atas tiga pulau tidak dapat disangkal

Dalam konteks ini, Mohammad Motamedi Zadeh, juru bicara Komisi Pasal 90 Parlemen Iran, menegaskan bahwa tiga pulau tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Iran, dan setiap klaim teritorial, khususnya dari Uni Emirat Arab dengan dukungan beberapa kekuatan asing, tidak dapat diterima. Dia mengatakan bahwa upaya menciptakan perpecahan di antara negara-negara kawasan pada akhirnya juga akan mengancam keamanan mereka sendiri.

Motamedi Zadeh menambahkan bahwa Pulau Abu Musa, Pulau Tunb Besar, dan Pulau Tunb Kecil adalah bagian yang tak terpisahkan dari kedaulatan Iran, dan setiap klaim teritorial atasnya bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap integritas wilayah dan hubungan bertetangga yang baik.

Sayangnya, beberapa negara kawasan, khususnya di Teluk Persia, berada di bawah pengaruh permainan negara-negara musuh seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa, sehingga alih-alih menjaga persatuan kawasan, mereka justru membuka jalan bagi perpecahan. Tindakan ini pada akhirnya akan merugikan negara-negara tersebut sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *