AUTENTIKWOMAN.Com– Sebuah publikasi Afghanistan menilai bahwa agresi AS-Zionis terhadap Iran telah melampaui konflik bilateral, dan menjadi simbol pertarungan antara tatanan hegemoni Barat dan arus perlawanan dari negara-negara berkembang.
Bukan Sekadar Perang Dua Negara
Media Afghanistan, Seri, dalam laporan analitisnya, Jumat 17 April 2026, menulis bahwa perkembangan regional terkini sekali lagi menguji kalkulasi geopolitik Asia Barat, bahkan tatanan internasional secara keseluruhan.
Dalam situasi di mana ketegangan antara Iran di satu sisi, dan poros AS-Israel di sisi lain, telah memasuki fase konfrontasi yang lebih terbuka, banyak pakar politik tidak lagi melihat ini sebagai sekadar perselisihan bilateral. Mereka menilainya sebagai simbol dari jurang pemisah yang dalam antara tatanan kekuatan global yang dominan dan negara-negara berkembang.
Dalam kerangka ini, pertahanan Iran terhadap tekanan dan ancaman ditafsirkan sebagai simbol perlawanan yang lebih luas dari Global South terhadap struktur-struktur hegemoni.
Akar Sejarah yang Panjang
Untuk memahami persepsi ini, kita perlu menelusuri sejarah hubungan kekuatan dalam delapan dekade terakhir. Banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, setelah Perang Dunia II dan terbentuknya tatanan global di bawah kepemimpinan AS, berulang kali menyaksikan intervensi militer, sanksi ekonomi, atau tekanan politik dari kekuatan besar.
Beberapa pakar percaya bahwa setiap konfrontasi antara kekuatan regional yang independen dan struktur hegemoni Barat dengan cepat berubah menjadi simbol yang melampaui sekadar konflik regional. Simbol yang, bagi banyak masyarakat di negara-negara berkembang, membawa pesan perlawanan dan redefinisi keseimbangan kekuatan.
Terkait Erat dengan Masalah Palestina
Media Afghanistan ini menekankan bahwa di Asia Barat, narasi historis ini terkait erat dengan masalah Palestina. Sejak pendirian Israel pada tahun 1948, kawasan ini telah menyaksikan berbagai perang, pendudukan, dan krisis, menjadikannya salah satu poros utama konflik politik di dunia Arab.
Negara-negara seperti Palestina, Lebanon, Suriah, Irak, dan Mesir telah terlibat dalam ketegangan ini pada periode yang berbeda. Karena itu, setiap konflik baru di kawasan dengan cepat ditafsirkan dalam kerangka sejarah panjang ini.
Pertarungan Narasi, Bukan Sekadar Senjata
Seri menegaskan bahwa Republik Islam Iran, selama beberapa dekade terakhir, telah berupaya memposisikan dirinya sebagai salah satu aktor utama Poros Perlawanan di kawasan.
Bagi pendukung pendekatan ini, kebijakan luar negeri Iran tidak hanya membela kepentingan nasional, tetapi juga membela cita-cita yang lebih luas dari dunia Islam dan Global South. Sebaliknya, kritikus Barat melihat kebijakan ini sebagai sumber ketidakstabilan regional.
Dua narasi yang bertentangan ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi saat ini bukan sekadar masalah militer atau keamanan, tetapi juga perang dalam ranah narasi dan legitimasi politik.
Eropa Hati-hati, India Bermain Dua Kaki
Soal respons hati-hati Inggris, Prancis, dan Jerman, yang di banyak krisis sebelumnya mendukung kebijakan keamanan Washington, media Afghanistan ini menulis bahwa kehati-hatian ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor: kekhawatiran meluasnya perang di Asia Barat, krisis energi, serta kelelahan opini publik Eropa terhadap konflik militer berkepanjangan di luar benua mereka.
Di sisi lain, perilaku kekuatan-kekuatan baru, terutama peran India, juga menarik perhatian para analis. Pemerintahan Narendra Modi selama bertahun-tahun berupaya mengembangkan hubungan strategisnya secara bersamaan dengan Barat, Israel, dan sejumlah negara Arab.
Seri melanjutkan bahwa kebijakan multi-arah ini kadang menghadapi kritik dari sebagian elit Global South. Sebab, India selama beberapa dekade dianggap sebagai salah satu pembela utama gerakan nonblok dan solidaritas negara-negara berkembang. Namun kini New Delhi terjebak dalam semacam keseimbangan kompleks antara kepentingan ekonomi, keamanan, dan identitas historisnya dalam kebijakan luar negeri.
Selat Hormuz dan Persaingan Kekuatan Besar
Media Afghanistan ini menegaskan bahwa pentingnya Selat Hormuz semakin menonjol. Karena itu, banyak analis percaya bahwa pengelolaan jalur air strategis ini dapat menjadi salah satu alat tekanan utama dalam kalkulasi geopolitik.
Dari perspektif geopolitik yang lebih luas, beberapa pakar menganalisis krisis ini dalam kerangka persaingan antar kekuatan besar. Kemungkinan peran negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok dalam keseimbangan kekuatan regional menjadi salah satu topik yang diperdebatkan di lingkaran strategis.
Kedua negara dalam beberapa tahun terakhir berupaya meningkatkan pengaruh mereka di Timur Tengah, namun juga menghindari ekspansi langsung perang yang dapat mengganggu pasar global.
Pertanyaan Besar untuk Masa Depan
Namun, pertanyaan terpenting tentang masa depan kawasan tetap ada: Akankah krisis ini mengarah pada perubahan fundamental dalam keseimbangan kekuatan Timur Tengah? Atau akhirnya akan berakhir dalam pola tradisional pencegahan dan pengendalian?
Sejarah menunjukkan bahwa Timur Tengah telah beberapa kali berada di ambang perubahan besar. Namun sering kali, perubahan ini, alih-alih mengubah tatanan regional secara total, hanya menghasilkan penataan ulang kekuatan secara relatif.
Namun yang pasti, perkembangan saat ini bukan sekadar konflik militer terbatas. Ini adalah ujian bagi tatanan internasional dan kalkulasi kekuatan di abad ke-21.
Hasil dari ujian ini tidak hanya akan menentukan nasib para aktor yang terlibat langsung, tetapi juga masa depan keamanan energi, politik global, dan bahkan konsep hegemoni dalam sistem internasional.
Iran berdiri di garis depan perlawanan. Namun, ini bukan hanya soal Iran. Ini soal dunia yang lelah dengan dominasi sepihak. Dunia yang mulai mempertanyakan: apakah hegemoni masih relevan?












