AUTENTIKWOMAN.Com– Pemimpin Besar Revolusi Islam atau Rahbar menyebut “Kemenangan Bangsa di Perang 12 Hari”, ” “Menggagalkan Fitnah Besar dan Berat di Bulan Dey”, dan “Kehadiran Megah Rakyat dalam Dua Pawai 22 Dey dan 22 Bahman” sebagai tanda kekuatan dan kehidupan bangsa Iran yang tercinta.
Seraya menegaskan untuk mempertahankan dan memperkuat “kesiapan, kewaspadaan dan persatuan nasional,” Rahbar menambahkan: “Kecuali para pemimpin dan elemen-elemen perusak yang terhubung dengan musuh, kami menganggap semua syuhada dan korban jiwa dalam kerusuhan, baik ‘pasukan pembela keamanan dan ketenangan masyarakat’, ‘pejalan kaki yang tidak bersalah’, dan bahkan ‘mereka yang tertipu karena kesederhanaan dan kemarahan lalu mengikuti fitnah’, sebagai anak-anak kami sendiri.”
Imam Khamenei pada Selasa, 17 Februari 2026 dalam pertemuan dengan ribuan warga Tabriz dan Azerbaijan Timur Iran, menyebut tahun ini sebagai tahun yang aneh dan penuh peristiwa. Seraya merujuk pada campur tangan yang tidak pada tempatnya dan ancaman-ancaman lancang dari pejabat dan media Amerika tentang serangan ke Iran.
“Mereka sendiri pun tahu bahwa mereka tidak akan sanggup menghadapi perkataan dan perbuatan ini, dan ‘tentara yang menganggap dirinya sebagai tentara terkuat di dunia’ mungkin akan menerima tamparan yang begitu keras sehingga tidak mampu bangkit kembali.
Imam Khamenei menegaskan bahwa di samping kesiapan yang dimiliki oleh lembaga-lembaga yang bertanggung jawab dalam menghadapi ancaman, bangsa harus tetap menjalankan pekerjaan dan kehidupan mereka dengan tenang dan penuh ketenangan.
Dalam pertemuan ini, yang berlangsung menjelang peringatan Kebangkitan rakyat Tabriz pada tanggal 19 Bahman 1356, beliau menganggap “waktu yang tepat, tindakan yang tepat waktu, dan pengorbanan” sebagai beberapa ciri khas kebangkitan tersebut. Dan seraya memuji kehadiran yang penuh sukacita dari generasi muda Azerbaijan di berbagai alun-alun, Rahbar mengatakan: Kehadiran ganda rakyat Tabriz dalam pawai 22 Bahman menunjukkan bahwa rakyat Tabriz, seperti seluruh bangsa Iran, hidup dan bersemangat, dan bangsa seperti itu tidak akan pernah tertipu oleh permainan politik dan tipu daya musuh.
Pemimpin Revolusi Islam seraya menyebut tahun ini sebagai tahun pengungkapan berulang “kebesaran, kemauan, tekad yang teguh, dan kemampuan lain dari bangsa Iran,” menambahkan: Bangsa ini telah membuat Iran bangga dan dicintai dengan demonstrasi kekuatan dan keteguhan yang berulang kali, dan para pejabat yang melakukan perjalanan ke luar negeri akhir-akhir ini merasakan keistimewaan khusus bangsa ini ketika bertemu dengan para pejabat dari negara-negara tersebut.
Rahbar menyebut perlu untuk menjelaskan sifat dan dimensi fitnah bulan Dey dari perspektif “orang-orang yang berpikir dan menganalisis,” dan mengatakan: Apa yang terjadi bukanlah gerakan dan keresahan sekelompok orang muda dan tua yang marah, melainkan “kudeta terencana” yang dihancurkan di bawah kaki bangsa Iran.
Ayatullah Agung Khamenei, dalam menjelaskan realitas ini, menambahkan: “Badan-badan intelijen dan spionase Amerika Serikat dan rezim Zionis, dengan bantuan dinas intelijen beberapa negara lain, telah sejak lama merekrut sejumlah individu jahat atau mereka yang memiliki potensi kejahatan. Individu-individu ini kemudian dilatih, diberi pendanaan, dan dipersenjatai di luar negeri. Mereka dikirim ke dalam negeri untuk melakukan aksi sabotase dan menyerang pusat-pusat militer serta pemerintahan, dengan tujuan agar dapat turun ke lapangan pada saat yang tepat. Kesempatan itu datang pada pertengahan bulan Dey.”
Pemimpin Revolusi Islam menyebut “mempengaruhi dan membangkitkan kemarahan sekelompok orang yang tidak berpengalaman dan lugu” sebagai langkah lain dari para pengatur dan pelaku fitnah. Beliau menyatakan: “Elemen-elemen terlatih ini mengirim orang-orang tersebut ke garis depan, sementara mereka sendiri turun ke lapangan dengan berbagai jenis senjata dan menerapkan kebijakan ‘gerakan yang keras dan tanpa pertimbangan’. Mereka, layaknya ISIS, melakukan pembakaran, pembunuhan, dan perusakan dengan kekejaman yang mengerikan.”
Pemimpin Revolusi Islam menyatakan bahwa tujuan utama dari tindakan-tindakan ini adalah untuk menggoyahkan fondasi sistem. Beliau menegaskan: “Tentu saja, aparat kepolisian, Basij, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan sejumlah besar masyarakat berdiri menghadapi para perusuh. Akibatnya, ‘kudeta’ tersebut, meskipun telah dipersiapkan dengan matang dan menghabiskan biaya yang sangat besar, mengalami kegagalan yang telak, dan bangsa Indonesia keluar sebagai pemenang di medan ini.”
Ayatullah al-Udzma Khamenei menyebut “pawai-pawai luar biasa pada tanggal 22 Dey dan 22 Bahman” sebagai bagian dari “tanda-tanda kebesaran Ilahi”. Beliau menegaskan: “Bangsa Iran, yang mampu memenangkan pertarungan melawan niat jahat dan konspirasi musuh dengan cara ini, wajib menjaga keberhasilan nyata yang merupakan karunia Ilahi ini melalui ‘kesiapan, kewaspadaan, dan persatuan nasional’.”
Dalam bagian lain dari pidatonya, Pemimpin Revolusi Islam menyebut berbagai masalah ekonomi, politik, dan sosial Amerika yang sangat banyak sebagai tanda-tanda dari proses kemunduran dan keruntuhan hegemoni Amerika. Beliau menyatakan: “Permasalahan Amerika dengan kita adalah mereka ingin ‘menelan’ Iran, namun bangsa Iran dan Republik Islam menjadi penghalang terwujudnya tujuan mereka.”
Pemimpin Revolusi menilai pernyataan-pernyataan ancaman dari Presiden Amerika Serikat sebagai cerminan dari keinginan mereka untuk mendominasi bangsa Iran. Beliau menambahkan: “Bangsa Iran sangat memahami pelajaran-pelajaran Islam dan Syiahnya, dan tahu kapan harus melakukan apa.”
Ayatullah Khamenei, merujuk pada pernyataan bersejarah dari Imam Husain as bahwa “seseorang seperti aku tidak akan pernah berbaiat kepada seseorang seperti Yazid,” menegaskan: “Bangsa Iran pun berkata, bangsa seperti kami, dengan budaya, sejarah, dan ajaran luhur yang kami miliki, tidak akan pernah berbaiat kepada orang-orang seperti para penguasa korup di Amerika.”
Pemimpin Revolusi Islam menyatakan bahwa terungkapnya skandal-skandal mengerikan dalam kasus “pulau terkenal itu” (Jeffrey Epstein) memperlihatkan realitas sebenarnya dari peradaban dan demokrasi liberal Barat. Beliau menambahkan: “Segala hal yang pernah kami dengar tentang kebobrokan para pemimpin Barat tidak sebanding dengan apa yang terjadi di pulau tersebut. Tentu saja, ini hanyalah satu contoh dari sekian banyak kebobrokan mereka. Sebagaimana kasus ini yang tadinya tidak diketahui lalu akhirnya terungkap, masih banyak kasus lain yang suatu hari nanti akan terungkap.”
Terkait ancaman dan tindakan pihak Amerika, yaitu pengiriman kapal perang menuju Iran, Pemimpin Revolusi Islam menyatakan: “Kapal perang memang merupakan alat yang berbahaya, namun yang lebih berbahaya dari itu adalah senjata yang mampu mengirim kapal perang tersebut ke dasar laut.”
Ayatullah Khamenei, merujuk pada pengakuan Presiden Amerika Serikat mengenai ketidakmampuannya untuk menghancurkan Republik Islam meskipun 47 tahun telah berlalu sejak Revolusi, menegaskan: “Ini adalah pengakuan yang baik. Tentu saja, saya katakan bahwa kamu pun tidak akan pernah mampu melakukan hal itu. Sebab, Republik Islam bukanlah pemerintahan yang terpisah dari rakyat, melainkan bersandar pada bangsa yang hidup, teguh, dan kokoh. Bangsa ini selama 47 tahun telah bekerja dan berjuang untuk kemajuannya sendiri.”












