Hubungan Iran–Rusia Semakin Erat Gambarkan Visi 20 Tahun

AUTENTIKWOMAN.Com- Sayyed Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, pada hari Rabu dalam pertemuannya dengan Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, menilai kesamaan posisi Teheran dan Moskow dalam sebagian besar isu internasional serta dukungan timbal balik yang berkelanjutan di berbagai bidang sebagai sesuatu yang memuaskan.

Araghchi di Moskow, dengan merujuk pada lima kali pertemuan presiden kedua negara dalam satu setengah tahun terakhir serta pertemuan-pertemuan rutin para menteri luar negeri, menggambarkan hubungan bilateral Iran–Rusia sebagai hubungan yang bersifat multidimensional. Ia menegaskan bahwa hubungan tersebut mencakup bidang politik, ekonomi, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Menteri Luar Negeri Iran menambahkan bahwa saat ini terdapat kesempatan untuk melakukan pembahasan yang lebih rinci mengenai hubungan bilateral serta meningkatkan koordinasi, termasuk bertukar pandangan mengenai berbagai isu regional dan internasional.

Araghchi juga menyampaikan apresiasi atas sikap Rusia yang mengecam agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran serta pernyataan solidaritas Moskow kepada bangsa Iran.

Di awal pertemuan tersebut, Sergei Lavrov menyampaikan kegembiraannya atas pertemuan dengan mitranya dari Iran dan mengatakan bahwa peristiwa paling penting dan menonjol dalam hubungan bilateral pada tahun kalender ini adalah penandatanganan Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif dan mulai diberlakukannya perjanjian tersebut.

Lavrov menambahkan bahwa perjanjian antara Teheran dan Moskow menegaskan posisi khusus kerja sama kedua negara dan menggambarkan arah serta visi kerja sama selama 20 tahun ke depan di seluruh bidang. Dia juga menegaskan bahwa untuk pertama kalinya, program konsultasi antara Kementerian Luar Negeri Rusia dan Iran untuk periode 2026 hingga 2028 akan ditandatangani pada hari itu.

Menteri Luar Negeri Iran juga dalam konferensi pers bersama Lavrov menyatakan bahwa Iran merupakan anggota yang berkomitmen pada Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), namun tidak akan melepaskan hak-haknya, termasuk hak atas pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, termasuk pengayaan uranium.

Araqchi dengan menyinggung konsep “perdamaian melalui kekuatan” yang dikemukakan oleh Amerika Serikat, memperingatkan bahwa pendekatan semacam itu dapat membahayakan masyarakat internasional. Dia menambahkan bahwa baik Iran maupun Rusia telah menjadi sasaran sanksi-sanksi ilegal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.

Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa kedua negara terus melakukan pertukaran pandangan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masing-masing serta menghadapi dampak sanksi.

Araqchi juga menegaskan dalam konferensi pers tersebut bahwa dari pihak Iran tidak pernah ada pesan yang dikirimkan kepada Amerika Serikat, dan bahwa Iran tidak pernah meninggalkan meja diplomasi. Menurutnya, justru Amerika Serikat yang mengkhianati diplomasi di tengah proses perundingan.

Dia menambahkan bahwa apabila Amerika Serikat memperbaiki pendekatannya dan siap untuk berunding dari posisi yang setara, maka Iran juga siap untuk kembali ke jalur negosiasi. Araqchi menekankan bahwa apa yang diinginkan Amerika Serikat dari perundingan bukanlah dialog sejati, melainkan pemaksaan kehendak.

Dia menegaskan bahwa perundingan yang sesungguhnya hanya dapat terwujud apabila pihak Amerika mengubah pendekatannya, dan apa yang gagal mereka capai melalui operasi militer, juga tidak akan dapat mereka peroleh melalui meja perundingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *