AUTENTIKWOMAN.Com– Hasil penelitian terbaru di Inggris, negara yang kerap menyebut dirinya sebagai pelopor hak asasi manusia, menunjukkan bahwa perempuan di negara ini menghadapi tingkat mengkhawatirkan dari ketidakamanan dan kekerasan seksual di jalanan, transportasi umum, serta ruang publik lainnya. Struktur kepolisian dan peradilan Inggris dinilai memiliki kelemahan serius dan kronis dalam mencegah serta menangani kejahatan tersebut.
Menurut laporan dari IRNA, Rabu, 3 November 2025, penelitian ini merupakan bagian dari laporan yang dikenal sebagai Laporan Angiolini, dipimpin oleh Elish Angiolini, pakar hukum terkemuka asal Skotlandia dan mantan Jaksa Agung Skotlandia (Lord Advocate).
Laporan ini disusun atas permintaan Kementerian Dalam Negeri Inggris setelah kasus mengejutkan penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan seorang perempuan Inggris bernama Sarah Everard oleh seorang perwira polisi. Laporan tersebut dipublikasikan pada 2 Desember 2025.
Sarah Everard pada tahun 2021, saat berjalan pulang ke rumahnya di London Selatan, diculik, diperkosa, dan dibunuh oleh Wayne Couzens, perwira Kepolisian Metropolitan saat itu.
Dalam bagian pertama laporannya yang diterbitkan Februari 2024, Angiolini mengungkap riwayat pelecehan seksual dan kelemahan struktural dalam sistem perekrutan serta pengawasan kepolisian.
Bagian kedua yang dirilis pada Selasa lalu menyoroti dimensi lebih luas dari ketidakamanan perempuan di ruang publik dan ketidakmampuan mekanisme pencegahan serta kepolisian.
Laporan ini disusun setelah penelitian lapangan terhadap delapan unit kepolisian, kajian atas 240 berkas kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, dan tindakan cabul di ruang publik, wawancara dengan komandan senior kepolisian, pejabat kementerian, aktivis sipil, serta survei nasional terhadap 2.000 orang.
Hasilnya memberikan gambaran sistematis tentang ketidakamanan perempuan dan kelemahan struktural dalam penanganan kekerasan seksual.
Krisis Tersembunyi dengan Data yang Tidak Lengkap
Dalam kesimpulannya, Angiolini menegaskan bahwa skala kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di Inggris sangat mengejutkan. Namun, bahkan pejabat resmi tidak mengetahui secara pasti berapa banyak perempuan yang menjadi korban kejahatan seksual di ruang publik, karena data yang tersedia tidak lengkap, terfragmentasi, dan tidak dapat diandalkan.
Menurut data yang dikutip dari strategi nasional kepolisian Inggris untuk menangani kekerasan terhadap perempuan, setiap tahun sekitar 1 dari 20 orang dewasa di Inggris diidentifikasi sebagai pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
Setidaknya 1 dari 12 perempuan sepanjang hidupnya menjadi korban kekerasan berbasis gender. Laporan ini menekankan bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi daripada estimasi resmi.
Disebutkan pula bahwa kejahatan yang dikategorikan sebagai kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan mencakup hampir 20 persen dari seluruh kejahatan yang tercatat di Inggris (tidak termasuk penipuan).
Rata-rata, sekitar 2.959 kasus dilaporkan setiap hari kepada polisi pada tahun 2022–2023. Angka ini jelas tidak mencakup banyak kasus kekerasan seksual yang tidak dilaporkan.
Selain itu, laporan Angiolini menyoroti bahwa bahkan dalam kerangka luas tersebut, tidak ada data spesifik mengenai kejahatan bermotif seksual terhadap perempuan di ruang publik. Misalnya, tidak tersedia satu pun kumpulan data yang menunjukkan berapa banyak perempuan yang menjadi korban pemerkosaan di ruang publik dalam satu tahun terakhir.
Hal ini, menurut penulis laporan, merupakan kekosongan serius dalam kebijakan dan perencanaan keamanan perempuan.











