AUTENTIKWOMAN.Com– Media arus utama Barat kembali mengandalkan klaim “aktivis” anonim untuk memberitakan Iran—sebuah pola lama yang, menurut penulis Karim Sharara, mencerminkan ekosistem perubahan rezim yang didaur ulang. Dalam praktiknya, organisasi yang dilabeli “hak asasi manusia Iran” kerap didanai pemerintah AS, beroperasi dari luar Iran, dan diperlakukan media sebagai sumber fakta tanpa verifikasi lapangan yang memadai.
Narasi seperti “2.000 pengunjuk rasa tewas, kata aktivis” beredar luas di outlet besar. Namun, integritas jurnalistik menuntut kejelasan sumber—siapa aktivisnya, didanai oleh siapa, dan beroperasi dari mana. Dalam konteks Iran, pertanyaan-pertanyaan itu sering diabaikan.
HRANA: Sumber Tunggal yang Diulang-ulang
Organisasi Human Rights Activists in Iran (HRANA) menjadi rujukan utama untuk angka penangkapan, korban tewas, hingga daftar nama tahanan—dikutip oleh Reuters, AP, BBC, CNN, dan The New York Times. Meski mengklaim “non-politik” dan “independen”, HRANA beroperasi dari Virginia, AS, bukan dari Iran.
Klaim independensi HRANA dipertanyakan karena pendanaan dari National Endowment for Democracy (NED)—lembaga yang didirikan untuk mengalihkan pendanaan yang sebelumnya dilakukan secara rahasia oleh CIA. Pendiri HRANA, Keyvan Rafiee, disebut menerima jutaan dolar donasi dalam periode satu dekade terakhir, dengan lonjakan signifikan pasca-2012.
CHRI: Independensi yang Tak Transparan
Pola serupa tampak pada Center for Human Rights in Iran (CHRI), yang mengklaim ribuan sitasi media internasional. Pendiri dan direktur eksekutifnya, Hadi Ghaemi, menerima kompensasi ratusan ribu dolar, sementara sumber pendanaan organisasi—yang mencapai belasan juta dolar—dinilai tidak transparan. Klaim lama Ghaemi bahwa ia tak menerima dana pemerintah AS juga dipersoalkan oleh catatan pajak dan jejaring pendanaan.
Tavaana: Pendidikan Sipil Berbiaya Jutaan
Inisiatif Tavaana mengaku sebagai program pendidikan sipil “terdepan”, namun diluncurkan dengan dana awal dari Departemen Luar Negeri AS. Induk organisasinya menerima puluhan juta dolar selama lebih dari satu dekade. Aktivitasnya—kursus daring dan webinar—dinilai tidak sebanding dengan besarnya dana. Dukungan NED dan USAID terhadap proyek ini tercatat dalam publikasi resmi.
Salah satu pendirinya, Mariam Memarsadeghi, secara terbuka mendukung “Israel” dan bahkan menyerukan serangan AS–Israel ke Iran, memicu kritik tajam soal konflik kepentingan dan agenda politik.
Iran Disinformation Project: Ketika Propaganda Terbuka
Proyek singkat Iran Disinformation Project, yang didanai Departemen Luar Negeri AS, dihentikan setelah terungkap menargetkan jurnalis dan akademisi AS yang dianggap “kurang anti-Iran”. Pendanaan diputus, namun jejak aktivitasnya memperlihatkan bagaimana “kontra-disinformasi” berubah menjadi kampanye penyerangan.
Boroumand Center: Dana Besar, Agenda Transisi
Boroumand Center for Human Rights in Iran—yang dipimpin Roya Boroumand dan Ladan Boroumand—menerima puluhan juta dolar donasi dan dukungan NED serta Open Society Foundations. Misinya menyebut “mempersiapkan transisi damai dan demokratis”, namun dukungan terhadap narasi “intervensi kemanusiaan” dan seruan sanksi/serangan menimbulkan pertanyaan serius tentang konsistensi prinsip.
Ekosistem Perubahan Rezim
Rangkaian organisasi ini, menurut penulis, membentuk “bazaar HAM” anti-Iran: jaringan LSM yang saling terhubung, didanai potongan anggaran pemerintah AS, dan diputar ulang oleh ruang redaksi Barat sebagai pengganti verifikasi lapangan. Setelah preseden Irak, Libya, dan Suriah, kritik mempertanyakan mengapa klaim serupa masih diterima mentah-mentah.
Kesimpulannya sederhana namun mendasar: ketika angka-angka sensasional dikutip dengan frasa “kata aktivis”, publik berhak bertanya—aktivis yang mana, dibiayai siapa, bekerja dari mana, dan dengan tujuan politik apa?






