Bagaimana Strategi Iran Merontokkan Superioritas AU Amerika-Israel?

AUTENTIKWOMAN.Com– Memahami pola dominan perang kontemporer yang mencakup pencapaian cepat superioritas udara, Amerika Serikat dan Israel yakin bahwa dengan serangan udara masif dalam skala mengoperasionalkan kapasitas nominal 1500 pesawat tempur, pembom, dan rudal jelajah per hari, mereka akan cepat mencapai keberhasilan di bidang pertempuran lainnya.

Dalam waktu kurang dari 10 hari, dengan teror dan menghabisi pejabat Iran, penghancuran infrastruktur militer dan ekonomi, dan menciptakan kekacauan internal, mereka akan menjadi pemenang akhir perang ini.

Oleh karena itu, aliansi militer Amerika Serikat dan Israel pada awal konfrontasi ini, dengan mengandalkan keunggulan teknologi dan pengalaman operasi sebelumnya, menjadikan asumsi tersebut sebagai dasar desain operasi.

Karenanya, pada hari pertama dan kedua perang, jumlah proyektil eksplosif serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran melibatkan lebih dari 1.300 proyektil, termasuk rudal jelajah dan bom berat berbasis udara serta penghancur bunker. Namun, dengan mempertimbangkan respons cepat Iran, jumlah itu mengalami tren penurunan dan kini dalam tren penurunan cepat selama 3 minggu telah berkurang menjadi sekitar 50 proyektil.

Penurunan ini bukan karena keinginan Amerika Serikat dan Israel sendiri, dan juga bukan sekadar penurunan kuantitatif dalam volume operasi. Ini merupakan tanda kelelahan multi-level di bidang operasional, logistik, intelijen, dan psikologis pasukan penyerang terhadap Iran.

Nah, operasi udara Amerika dan Israel bertumpu pada tiga komponen utama:

1. Pesawat pembom Amerika yang ditempatkan di kawasan, yang setelah penghancuran pangkalan-pangkalan Amerika dalam radius 3000 km dari Oman hingga Yordania, kini terpaksa beroperasi dari Inggris.

2. Penggunaan rudal jelajah, yang dengan hancurnya pangkalan darat, harus menggunakan armada laut.

3. Partisipasi pesawat tempur Amerika-Israel dan beberapa negara Teluk Persia, serta pesawat tempur yang ada di atas kapal induk Amerika.

Namun, struktur ini, dengan mempertimbangkan desain konfrontasi Iran dan penghancuran pangkalan-pangkalan Amerika di negara-negara selatan Teluk Persia serta pengusiran kapal induk ke jarak 1000 hingga 1500 km dari perairan Iran, memiliki batasan-batasan penting:

Jarak Operasional:

Peningkatan jarak memperpanjang waktu siklus misi dan meningkatkan tekanan pada armada. Selain itu, biaya melambung tinggi dan perangkat militer dengan cepat mengalami keausan.

Bergantung pada Senjata Jarak Jauh:

Dengan dihilangkannya pangkalan-pangkalan regional, penggunaan persenjataan jarak jauh meningkat drastis. Akibatnya, kita menyaksikan penurunan kebebasan aksi untuk memasuki kedalaman operasional Iran dan keberhasilan yang lebih besar dari pertahanan udara Iran dalam menghadapinya.

Kerentanan Pangkalan Regional yang Tersisa:

Peristiwa ini berarti penurunan stabilitas operasional yang semakin besar, dan merupakan alasan mengapa mereka menjadi sasaran serangan balasan Iran. Iran kini, dengan tenang karena berkurangnya kerentanan internal secara drastis, menargetkan musuh-musuhnya dengan lebih presisi dan intensif.

Dampak Kerusakan Infrastruktur Pangkalan Amerika dan Israel yang Tersisa:

Peningkatan kuantitas dan kualitas serangan Iran menyebabkan proses perbaikan dan penguatan pangkalan-pangkalan CENTCOM sangat terganggu. Hal ini mengakibatkan penurunan kapasitas serangan menjadi kurang dari 50 proyektil per hari.

Gangguan pada siklus pemeliharaan, pasokan, dan persiapan logistik musuh meningkat sangat tajam. Akibatnya, sistem operasional penyerang mengalami penurunan ketahanan dan peningkatan waktu pemulihan, sebuah situasi yang secara langsung mempengaruhi kemampuan melanjutkan operasi.

Oleh karena itu, Amerika Serikat berusaha keras untuk menghentikan tren yang tak terhindarkan ini dengan melibatkan negara-negara baru ke dalam perang atau memperlambat kecepatannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *