AUTENTIKWOMAN.Com– Perkembangan terbaru di Venezuela kembali menempatkan pasar minyak dunia dalam kondisi kejutan dan ketidakpastian. Para analis berpendapat bahwa kebijakan agresif Amerika Serikat dan hegemoni baru yang muncul sangat bergantung pada kekuatan energi serta akses terhadap sumber daya minyak.
Analis internasional pasar minyak dan energi menekankan bahwa meskipun pasar minyak global pada tahun 2025 sudah dipenuhi ketegangan geopolitik dan data yang saling bertentangan, awal tahun 2026 ditandai oleh sebuah peristiwa luar biasa; operasi militer Amerika di Venezuela. Langkah ini bukan sekadar memicu guncangan harga, tetapi juga menjadi tanda pendefinisian ulang peran energi dalam politik luar negeri Washington.
Fereydoun Barkeshli, analis internasional pasar minyak dan energi, berpendapat bahwa strategi pemerintahan Trump untuk mengembalikan industri padat energi ke wilayah Amerika membutuhkan akses energi yang stabil dan murah—hal yang menjadikan Venezuela semakin penting. Baginya, penguasaan Amerika atas sumber minyak Venezuela tidak hanya terkait harga minyak, tetapi juga berhubungan langsung dengan daya saing perusahaan-perusahaan Amerika di pasar global.
Barkeshli menambahkan bahwa lonjakan produksi minyak serpih (shale oil) di Amerika telah menjadikan negara itu sebagai eksportir bersih minyak setelah beberapa dekade, dan hal ini memberi kepercayaan diri baru bagi kebijakan luar negeri AS. Namun, karena sifat minyak serpih yang ringan, kilang-kilang Amerika masih membutuhkan minyak berat Venezuela sebagai bahan pelengkap.
Dia juga menekankan bahwa sanksi terhadap sebagian besar minyak dunia, munculnya perdagangan non-dolar, serta tekanan terhadap sistem petrodolar, semuanya menunjukkan bahwa energi tetap berada di pusat persaingan geopolitik. Dari sudut pandang ini, perkembangan di Venezuela bukanlah peristiwa sesaat, melainkan bagian dari persamaan besar hegemoni energi Amerika dalam tatanan global baru.











