AUTENTIKWOMAN.Com- Perayaan Festival Cahaya Yalda Iran tengah diselenggarakan dengan rangkaian program Malam Yalda di Taman Mellat, Tehran.
Festival Cahaya Yalda Iran, dengan program-program Malam Yalda (Shab-e Yalda), dimulai pada 16 Desember dan berlangsung hingga 20 Desember 2025, di Taman Mellat, Tehran.

Malam Yalda, yang dimulai sejak matahari terbenam (hari terakhir musim gugur) dan berlanjut hingga matahari terbit (hari pertama musim dingin), sebagaimana Nowruz dan Chaharshanbe Suri, berakar pada sejarah serta kebudayaan kuno Iran.

Kata “Yalda” berasal dari bahasa Suryani dan berarti “kelahiran” atau “tumbuhnya kehidupan”. Usia perayaan ini ditelusuri hingga ribuan tahun silam. Sejumlah arkeolog, dengan merujuk pada temuan wadah-wadah keramik dan motif hewan yang berkaitan dengan bulan-bulan dalam kalender Iran, memperkirakan bahwa jejak Yalda dapat mencapai sekitar tujuh ribu tahun yang lalu.

Salah satu tradisi Yalda yang populer adalah mengambil fal (ramalan) dari Divan (kumpulan puisi) karya Hafez, penyair besar Iran. Sesepuh dalam majelis membuka Divan-e Hafez, lalu membacakan dan menafsirkan ghazal yang terpilih. Sebagian besar puisi Hafez bernuansa romantis dan penuh harapan; karena itu, hasil fal biasanya membawa suasana gembira.
Sebagai informasi, mengenai Shab-e yalda atau Shab-e Chelleh adalah salah satu perayaan tertua bangsa Iran yang berusia 7000 tahun.
Malam Yalda atau Shab-e Yalda, malam ini merupakan malam terpanjang dalam setahun, dan orang Iran sejak dahulu merayakannya dengan kegembiraan serta ritual khusus. Kata “Yalda” berasal dari bahasa Suryani yang berarti “kelahiran” atau “lahirnya sesuatu”.
Usia perayaan ini kembali ribuan tahun ke masa lalu. Beberapa arkeolog, dengan merujuk pada temuan tembikar dan motif hewan yang berkaitan dengan kalender bulan Iran, memperkirakan bahwa tradisi Yalda telah ada sejak tujuh ribu tahun silam.
Bangsa Iran kuno, berdasarkan mitologi dan pengetahuan tentang fenomena kosmik, merayakan Yalda. Ada dua kisah utama mengenai alasan diselenggarakannya malam ini.
Kemenangan cahaya atas kegelapan: Kehidupan masyarakat kuno bergantung pada pertanian dan peternakan, sehingga perubahan siang dan malam sangat penting bagi mereka. Mereka memandang cahaya dan matahari sebagai lambang kebaikan serta penciptaan, sementara kegelapan dan dingin dianggap sebagai tanda kejahatan. Oleh karena itu, orang Iran merayakan malam terpanjang dalam setahun, sebab setelah itu siang hari menjadi lebih panjang dan terang mengalahkan gelap.
Kelahiran Mithra (Mihr): Para pemuja Mithra menganggap Yalda sebagai malam kelahiran dewa Mithra; sosok ilahi yang muncul dari sebuah gua kecil dan membawa matahari ke dunia. Dalam beberapa kisah juga disebutkan bahwa pada malam ini Mithra kembali hadir dan membuat siang hari menjadi lebih panjang.
Tradisi dan Ritual Malam Yalda
Bercerita dan membacakan peribahasa: Pada malam ini, keluarga Iran berkumpul bersama. Para orang tua menceritakan kisah dan peribahasa untuk anggota keluarga lainnya. Di setiap daerah, kisah-kisah lokal memiliki tempat khusus.
Ramalan Hafez: Salah satu tradisi populer Yalda adalah mengambil ramalan dari Diwan puisi Hafez, penyair besar Iran. Sesepuh majelis membuka kitab Hafez, membaca ghazal yang terpilih, lalu menafsirkannya. Sebagian besar puisi Hafez bernuansa cinta dan penuh harapan, sehingga ramalan ini biasanya membawa kegembiraan.
Membaca Shahnameh: Membacakan Shahnameh, karya Ferdowsi sang penyair besar Iran, khususnya dengan gaya penceritaan tradisional (naqqali), merupakan bagian lain dari malam Yalda. Tradisi ini menjadi simbol budaya dan identitas Iran.
Menghias meja Yalda: Meja malam Yalda dihiasi dengan buah-buahan seperti delima dan semangka, serta kacang-kacangan dan camilan berwarna-warni. Delima dan semangka melambangkan matahari dan keberkahan, sehingga menempati posisi utama di meja. Di samping itu, terdapat buah-buahan kering seperti murbei, ara, irisan persik, dan aprikot. Campuran kacang Yalda terdiri dari berbagai biji dan kacang kering, yang menjadi simbol kelimpahan, kesehatan, dan kebahagiaan.




















Tradisi-tradisi ini menjadikan Malam Yalda bukan hanya sebuah perayaan astronomis, tetapi juga momen kebersamaan, budaya, dan rasa syukur atas kehidupan.











