Kembali ke Akar: Generasi Kreatif Tanpa Gadget

AUTENTIKWOMAN.Com– Dalam beberapa dekade terakhir, kita telah menyaksikan revolusi teknologi yang membawa gadget-smartphone, tablet, dan perangkat elektronik lainnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mirisnya, dibalik kemudahan akses informasi dan komunikasi yang diberikan oleh gadget bisa jatuh ke tangan anak-anak usia dini. Anak-anak semakin tenggelam dalam dunia maya tanpa kontrol.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023 sebanyak 36,99 persen anak di bawah usia 15 tahun di Indonesia sudah menggunakan telepon genggam.  Angka tersebut mengalami peningkatan di tahun 2024, sebagaimana dilaporkan oleh akun Instagram Indonesia Baik yang mengutip data terbaru Badan Pusat Statistik, bahwa sebanyak 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dan 35,57 persen di antaranya sudah mengakses internet.

Merasa prihatin dengan kecanduan gadget pada anak-anak, Yussy Fauziah biasa disapa bunda Yussy, beliau adalah pengacara beberapa artis ternama dan kini memilih fokus mengembalikan dunia anak-anak yang polos dan ceria. Kembali kepada akarnya, anak-anak Indonesia yang hebat yang tidak kecanduan gadget.

Kehadiran autentiwoman.com disambut hangat bunda Yussy dan puluhan anak-anak yang dengan bangganya memperlihatkan hasil karya mereka berupa lukisan batik diatas lembaran kain putih berukuran 25 cm x 60. Misalnya, Iyoh, siswi kelas 3 di SD 03 Bekasi ini diantar kedua orang tuanya naik kereta api dari bekasi ke depok untuk belajar membatik.

Rumah sederhana yang berlokasi di Tapos, Depok, Jawa Barat itu menjadi saksi bisu yang kelak akan mengantarkan mereka menjadi generasi muda yang berkarakter bukan generasi tempe!

Iyoh, dengan hasil karyanya orang lagi semadi.

Gadis cilik berperawakan bongsor itu mengaku dirinya sangat senang belajar membatik dan sudah tidak lagi kecanduan gandget.

“Bunda, saya sekarang sudah tidak pegang handphone lagi. Saya sekarang belajar membatik. Saya menggambar orang lagi bersemadi,” katanya dengan wajah polos sambil memperlihatkan karyanya orang sedang bersemadi dengan kain putih polos.

“Saya senang sekarang sudah bisa membatik. Nanti, saya mau buat model kebaya dan sajadah untuk lebaran. Buat ayah dan bunda,” katanya dengan nada gembira.

Selain Iyoh, masih banyak anak-anak lainnya yang menunjukkan bakat menggambar.

Hasil karya anak-anak tanpa gadget
Hasil karya anak-anak tanpa gadget
Hasil karya anak-anak tanpa gadget

Meski dengan peralatan sederhana dan lampu yang tidak terlalu terang, anak-anak sangat terampil menggambar sesuai dengan bakatnya masing-masing.

Meski hanya peralatan sederhana, anak-anak bisa menciptakan karya luar biasa bisa menggambar sekaligus membatik

Bunda Yussy menuturkan anak-anak yang kini berjumlah 25 orang itu semula sangat kecanduan gadget tanpa mengenal waktu bahkan ada yang sampai tidak ingin sekolah karena tidak mau melepaskan handphonenya.

“Saya sangat prihatin. Anak-anak ini tadinya sangat kecanduan gadget bisa 24 jam bahkan sampai ada yang tidak mau sekolah. Pelan-pelan saya mengajari mereka membatik. Alhamdulillah, sekarang anak-anak sudah tidak pegang handphone lagi. Mereka setiap hari ke sini belajar membatik,” bebernya.

Dia mengaku kaget ketika melihat hasik karya mereka yang luar biasa.

Gambar batik Srikandi Emas

“Ini di luar nalar ya, mereka menggambar Sri Kandi Emas, Kunci Kehidupan, orang bersemadi dan lain-lain. Gambarnya bagus dan goresan lukisannya sangat halus sekali,” katanya,  sambil menambahkan setiap hari anak-anak menabung dua ribu rupiah untuk membeli kain putih.

“Anak-anak saya ajarkan menabung jadi uang jajannya digunakan untuk beli kain putih buat menggambar dan membatik,” sambungnya.

Dia berharap dengan keterampilan menggambar dan membatik ini, anak-anak Indonesia kedepannya tidak lagi kecanduan gadget yang bisa merusak otak tetapi menjadikan anak-anak Indonesia bisa menggali kreatifitas untuk membangun jiwa entrepreneur.

Kimi kelas 3 SD ,sudah bisa nyanting batik.

“Anak-anak Indonesia harus berjiwa entrepreneur, menggali potensi dirinya dengan karya kreatif bisa punya usaha sediri. Ini menjadi tantangan kedepan dalam menghadapi era golabalisasi,” tutur dia.

Hasil karya anak-anak tanpa gadget

Bunda Yussy menaruh harapan perlindungan anak-anak di Indonesia benar-benar bersih dari kecanduan narkoba, game online dan gadget. Tak hanya itu, dia juga memperhatikan masalah kesejahteraan lanjut usia.

UU Lansia merujuk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial lanjut usia dengan memberikan pelayanan dan perlindungan yang memadai.

Tujuan UU Lansia

– Meningkatkan kesejahteraan sosial lanjut usia

– Memberikan pelayanan dan perlindungan yang memadai

– Meningkatkan kemandirian dan produktivitas lanjut usia

Pelayanan Bagi Lansia

– Pelayanan keagamaan dan mental spiritual

– Pelayanan kesehatan

– Pelayanan kesempatan kerja

– Pelayanan pendidikan dan pelatihan

– Kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana, dan prasarana umum

– Perlindungan sosial

– Bantuan sosial

Hak dan Kewajiban Lansia

– Hak untuk meningkatkan kesejahteraan sosial

– Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan

– Hak untuk mendapatkan perlindungan sosial dan bantuan hukum

– Kewajiban untuk membimbing dan memberi nasihat secara arif dan bijaksana

– Kewajiban untuk mengamalkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada generasi penerus.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed