AUTENTIKWOMAN.Com– Koran Wall Street Journal memperingatkan bahwa minoritas Nasrani dan Muslim di India menghadapi kondisi yang sangat sulit.
“Minoritas Kristen dan Muslim di India menghadapi kondisi yang sangat sulit, dan kekerasan terhadap mereka terus meningkat secara berulang dan sistematis.”
Laporan ini menunjukkan bahwa pemerintah Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin oleh Modi menerapkan kebijakan diskriminatif berdasarkan agama dan etnis, serta tidak melakukan tindakan efektif untuk melindungi kaum minoritas.
Disebutkan pula bahwa diskriminasi yang meningkat terhadap Muslim dan Kristen terjadi di seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, termasuk diskriminasi dalam perumahan, pekerjaan, pendidikan, dan hak suara.
Selain itu, laporan tersebut menekankan bahwa Hindutva, gerakan nasionalis Hindu yang mempromosikan identitas Hindu murni bagi India, memainkan peran penting dalam memperburuk kekerasan terhadap minoritas, khususnya Muslim dan Kristen.
Laporan ini juga menyoroti sikap diam pemerintah dan kepolisian India dalam menangani pelanggaran tersebut, dengan menekankan bahwa meskipun kekerasan terus berulang, pejabat lokal maupun federal sering mengabaikannya atau lalai mengambil tindakan terhadap para pelaku.
Eskalasi Pembunuhan Massal Muslim di India pada tahun 2025
Dalam sebuah berita lain disebutkan; di India pada tahun 2025, jumlah kerusuhan agama menurun menjadi 28 kasus, namun terjadi 14 kasus pembunuhan massal terhadap Muslim yang menyebabkan delapan orang tewas.
Pusat Studi Masyarakat dan Sekularisme menyatakan bahwa sebagian besar kekerasan tercatat di negara bagian yang diperintah oleh Partai Bharatiya Janata (BJP), dan pemerintah dengan keterlambatan atau sikap diam terhadap para penyerang telah menyebabkan ketidakadilan terus berlanjut.
Baru-baru ini, salah satu pemimpin Hindutva dalam sebuah kerumunan besar di Ludhiana menyampaikan pidato yang berisi bahasa menghina dan seruan eksplisit untuk melakukan kekerasan terhadap Muslim. Video pidato tersebut dipublikasikan di media sosial dan memicu kemarahan serta kekhawatiran kelompok Islam dan organisasi masyarakat sipil.
Dalam pidatonya, sang pembicara mengancam para ulama Muslim dan mengatakan: “Ketika setiap pemimpin kelompok Bajrang Dal keluar dengan senjatanya, kami akan menindas para ulama.”
Para aktivis hak asasi manusia menganggap pidato ini sebagai hasutan langsung terhadap sektarianisme dan kekerasan, serta memperingatkan tentang dampak sosialnya.
Seorang anggota senior komunitas Muslim di Ludhiana, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan pidato semacam ini adalah ajakan terang-terangan untuk melakukan pembunuhan. Jika tidak ada tindakan, mereka mengirimkan pesan berbahaya kepada seluruh Muslim di wilayah tersebut.
Sementara itu, Amir Khan, seorang aktivis hak asasi manusia yang berbasis di Punjab, menyebut pidato terbaru itu sebagai “eskalasi berbahaya terhadap Muslim” dan bentuk penyalahgunaan demonstrasi publik untuk menyebarkan kebencian serta menghasut kekerasan.
Dia menambahkan bahwa pihak berwenang harus segera turun tangan untuk mencegah meluasnya retorika semacam ini dan melindungi komunitas Muslim.






