AUTENTIKWOMAN.Com– Seiring dengan meningkatnya operasi militer rezim Zionis Israel di seluruh wilayah Tepi Barat Sungai Yordan, serangan para pemukim Zionis yang berada di bawah perlindungan pasukan pendudukan juga mengalami peningkatan.
Selama beberapa hari terakhir, Tepi Barat Sungai Yordan menyaksikan gelombang baru serangan militer, penembakan, dan aksi-aksi terorganisir para pemukim Zionis. Perkembangan ini terjadi di tengah peringatan lembaga-lembaga hak asasi manusia mengenai dampak meningkatnya kekerasan terhadap warga sipil Palestina. Pada saat yang sama, kebijakan pembatasan rezim pendudukan terhadap Masjid Al-Aqsa dan penduduk Al-Quds (Yerusalem) telah meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan pada bulan suci Ramadan.
Serangan lapangan dan luka-lukanya warga sipilSumber-sumber Palestina melaporkan bahwa para pemukim Zionis, dengan dukungan pasukan tentara rezim pendudukan, pada Sabtu malam menyerang warga Palestina tak bersenjata di beberapa wilayah Tepi Barat dengan menggunakan amunisi perang. Dalam serangan-serangan tersebut, kendaraan militer Israel menyerbu rumah-rumah dan toko-toko, serta menciptakan suasana teror dan ketakutan di kalangan penduduk.
Dalam sebuah bentrokan berbahaya, para pemukim Zionis menembaki kota Srif di utara Al-Khalil (Hebron) dan menyerang penduduk setempat. Bulan Sabit Merah Palestina juga mengonfirmasi bahwa akibat serangan terpisah para pemukim di kota Beit Umar dekat Nablus dan kota Ramon di timur Ramallah, dua pemuda Palestina terluka dan dipindahkan ke pusat-pusat medis.
Meluasnya serangan dari Nablus hingga BetlehemDi desa Nabi Saleh, barat laut Ramallah, terjadi bentrokan antara pemuda Palestina dan pasukan pendudukan. Di Tulkarm, tentara Israel menembaki sebuah kendaraan sipil, mengejarnya hingga dekat Kamp Pengungsi Nur Shams, dan secara langsung menargetkan pergerakan warga sipil.
Pasukan pendudukan juga menyerbu bagian timur kota Nablus dan Kamp Askar Lama. Di Provinsi Salfit, desa Qarawat Bani Hassan dan kota Al-Zawiya menjadi sasaran serangan tentara Israel serta perusakan toko-toko. Di Betlehem, kota Al-Obeidiya dan Za’tara juga menjadi target penggerebekan; tindakan-tindakan ini dinilai sebagai bagian dari peningkatan penangkapan dan kebijakan intimidasi terhadap rakyat Palestina.
Peningkatan tekanan terhadap Masjid Al-Aqsa menjelang bulan suci Ramadan
“Medhat Diba,” seorang pengacara Palestina yang tinggal di Al-Quds yang diduduki, menyatakan bahwa rezim Zionis Israel menjelang bulan suci Ramadan telah meningkatkan langkah-langkah preventifnya di Masjid Al-Aqsa. Dalam wawancaranya dengan kantor berita Palestina “Shehab”, Medhat Diba mengatakan bahwa rezim tersebut, melalui pemanggilan dan ancaman terhadap puluhan pemuda di Al-Quds, penerbitan perintah larangan masuk sementara, serta penerapan pembatasan terhadap i‘tikaf, berupaya mengurangi kehadiran aktif para jemaah di Masjid Al-Aqsa.
Diba menyebut langkah-langkah tersebut tidak memiliki dasar hukum apa pun dan menegaskan bahwa pembatasan kebebasan beribadah dan bergerak, menurut hukum internasional, merupakan pelanggaran nyata terhadap hak-hak dasar rakyat Palestina.
Pembatasan keamanan dan kekhawatiran akan meningkatnya keteganganPada saat yang sama, kepolisian rezim pendudukan Israel mengumumkan penerapan pembatasan baru terhadap masuknya warga Palestina dari Tepi Barat ke Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan. Keputusan ini disertai dengan gelombang penangkapan, pemanggilan, serta penerbitan perintah larangan masuk, yang semakin meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan lapangan dan keagamaan dalam hari-hari mendatang.
Pars Today






