“Selat Hormuz” Kelahiran Kekuatan Super Baru di Dunia

AUTENTIKWOMAN.Com– Kinerja Donald Trump telah memperparah krisis erosi kekuatan Amerika, dan retorika Trump tidak mampu menghentikan proses tersebut. Saat ini, Selat Hormuz telah menjadi kuburan bagi kredibilitas Amerika bahkan di mata sekutu‑sekutunya.

Ali Sattari – Kantor Berita Mehr:

Retorika baru yang tidak berdasar dari Presiden AS Donald Trump terkait Selat Hormuz—termasuk penyebutan bernada satir sebagai “Selat Trump”—merupakan gambaran lain dari kegilaan kekuasaan dan frustrasi strategis seorang politisi. Orang yang memulai perang dengan tujuan mengganti sistem pemerintahan di Iran kini tidak hanya gagal mencapai tujuan yang diumumkannya, tetapi dalam praktiknya bahkan tidak mampu menjamin keamanan pelayaran kapal‑kapalnya sendiri di jalur air vital tersebut.

Ketika kapal induk besar seperti USS Abraham Lincoln bahkan tidak dapat mendekati selat itu, maka wajar dipertanyakan bagaimana nasib kapal perusak Amerika yang lebih kecil, kapal negara lain, tanker minyak, dan kapal dagang—yang nyawanya justru dipertaruhkan oleh retorika dan operasi psikologis Trump.

Trump dan Situasi yang Tak Pernah Ia Bayangkan

Di tengah realitas lapangan ini, Trump kini menghadapi situasi yang paling tidak diinginkannya.

Di satu sisi ia dengan nada memohon mencari payung dukungan dari negara‑negara regional dan internasional, sementara di sisi lain ia semakin sering harus berdiri menyambut peti jenazah tentara Amerika.

Gambaran ini menunjukkan jarak besar antara janji‑janji populis dengan harga mahal dari kebijakan perang.

Krisis Kredibilitas dan Erosi Kekuatan Sebuah Superpower

Kontradiksi antara ambisi mengganti sistem pemerintahan di Iran dan ketidakmampuan mengamankan jalur pelayaran sendiri lebih dari apa pun memperlihatkan krisis kredibilitas dan erosi kekuatan sebuah adidaya yang kehilangan arah.

Trump yang gemar berjudi politik harus memahami bahwa akhir perang ini juga akan menjadi akhir dari persamaan kekuatan yang selama bertahun‑tahun dipaksakan Amerika terhadap kawasan.

Ini akan menjadi awal runtuhnya tatanan yang menempatkan Amerika sebagai pusat kekuatan di kawasan.

Selat Hormuz adalah timbangan sejarah yang pada akhirnya akan condong ke arah Iran, sementara di sisi lain Amerika akan kehilangan bobot pengaruhnya di kawasan dengan cepat.

Perubahan Keseimbangan Kekuatan dan Kesadaran Bangsa‑Bangsa

Namun yang lebih penting dari perubahan keseimbangan kekuatan adalah perubahan kesadaran.

Bangsa‑bangsa dan negara‑negara yang selama beberapa generasi hidup di bawah dominasi kekuatan asing kini akan menyaksikan dengan mata terbuka bahwa kehendak Amerika tidaklah suci dan tidak pula tak terkalahkan.

Mereka akan belajar bahwa kekuatan yang sedang melemah ini dapat diusir dari mana pun dengan kehinaan dan kehilangan kredibilitas.

Akhir perang akan menandai akhir sebuah era—era di mana tidak ada pihak selain bangsa‑bangsa kawasan sendiri yang menentukan masa depan mereka.

Selat Hormuz dan Arsitektur Keamanan Energi Dunia

Mohammad Bagher Hajizadeh, pakar hukum internasional dan peneliti studi strategis, mengatakan bahwa Selat Hormuz sejak lama merupakan salah satu jalur laut paling sensitif di dunia.

Dengan bentuknya yang sempit dan posisi unik, sejak zaman kuno hingga sekarang selat ini selalu memainkan peran penting dalam perdagangan dan dinamika geopolitik.

Selain menjadi jalur perdagangan laut di masa lampau, saat ini Selat Hormuz juga merupakan salah satu arteri utama transportasi energi dunia.

Sejarah menunjukkan bahwa sejak abad ke‑16 dan 17, berbagai kekuatan besar berusaha menguasai selat ini—mulai dari dominasi Portugis, persaingan Safawi‑Utsmani, hingga kehadiran perusahaan dagang Eropa seperti East India Company.

Dari Petrodolar ke “Perang Ramadan”

Dalam era modern, pentingnya selat ini meningkat seiring meningkatnya ketergantungan dunia terhadap energi dari Teluk Persia.

Peristiwa krisis minyak tahun 1973 menempatkan Selat Hormuz di pusat ekonomi politik global. Pada periode itu juga terbentuk sistem keuangan petrodolar, di mana perdagangan minyak dilakukan dalam dolar dan dana tersebut kembali ke pasar keuangan Amerika.

Dalam banyak studi energi, Selat Hormuz disebut sebagai “sendi utama” dalam arsitektur kekuatan ekonomi global.

Peluang bagi Iran

Menurut Hajizadeh, konflik regional terbaru—yang disebut sebagai “Perang Ramadan”—membuka peluang bagi Iran untuk memperkuat perannya di kawasan Teluk Persia.

Sebagian besar minyak ekspor kawasan serta porsi signifikan gas alam cair dunia melewati selat ini. Karena itu, hubungan antara aliran energi dan jalur laut menciptakan hubungan kompleks antara keamanan pasokan, pengelolaan jalur pelayaran, dan peran negara‑negara pesisir.

Iran sebagai salah satu pemilik cadangan energi terbesar dan salah satu dari dua negara utama yang menguasai pesisir selat, memiliki peran ganda:

sebagai bagian dari jaringan pasokan energi dunia, sekaligus sebagai pihak yang mengawasi jalur transit energi tersebut.

Peran Pulau‑Pulau Strategis

Pulau‑pulau di sekitar mulut Selat Hormuz juga memiliki peran penting dalam hukum laut internasional, termasuk dalam:

  • penentuan garis dasar wilayah laut,
  • panduan navigasi,
  • pengelolaan polusi laut,
  • operasi pencarian dan penyelamatan,
  • serta pengaturan jalur pelayaran.

Rezim “transit passage” dalam hukum laut internasional menjamin kebebasan pelayaran kapal, tetapi sekaligus memberikan hak kepada negara pesisir untuk menetapkan aturan keselamatan dan lingkungan.

Momentum Peninjauan Sistem Maritim

Perang regional terbaru kembali menyoroti pentingnya selat‑selat strategis dan koridor energi.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali terjadi perubahan dalam struktur kekuatan ekonomi energi dunia, jalur strategis seperti Selat Hormuz selalu menjadi objek pembahasan hukum dan manajemen baru.

Banyak analis menilai bahwa periode seperti ini biasanya membuka peluang untuk:

  • meninjau kembali mekanisme pengelolaan jalur pelayaran,
  • meningkatkan standar keselamatan,
  • menciptakan aturan baru dalam tata kelola maritim.

Saat ini Selat Hormuz berada pada titik sejarah yang dapat memicu perdebatan baru mengenai pembaruan regulasi maritim dan penyesuaiannya dengan perubahan dalam sistem energi global.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *