AUTENTIKWOMAN.Com– Presiden Republik Islam Iran menekankan bahwa kebijakan prinsipil Republik Islam Iran adalah menghindari perang dan berfokus pada persatuan serta pelayanan kepada rakyat.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa esensi ajaran agama didasarkan pada rahmat, kejujuran, dan penghormatan terhadap hak-hak manusia, sementara tekanan ekonomi diterapkan dengan tujuan menggambarkan ketidakmampuan sistem.
Presiden Iran, pada Senin, 9 Februari 2026 malam dalam pertemuan para pemimpin dan pengikut agama-agama samawi dalam rangka peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, dengan mengacu pada fondasi bersama agama-agama samawi, menyebut peran para nabi adalah menegakkan keadilan, menyebarkan kasih sayang, dan melindungi hak-hak manusia dalam masyarakat.
Pezeshkian, dengan menyatakan bahwa berdasarkan ajaran Ilahi, semua nabi diutus untuk menegakkan keadilan dan menghakimi berdasarkan kebenaran, dan menambahkan, dalam logika agama-agama samawi, manusia adalah ‘umat yang satu’ dan seruan utama para nabi adalah menyembah Tuhan, beriman kepada hari akhir, serta menghormati hak-hak satu sama lain.
Dia menekankan bahwa banyak perselisihan adalah akibat menjauh dari prinsip-prinsip ini. “Jika manusia bertindak dengan semangat persaudaraan, kebaikan, dan pengampunan, dasar dari banyak pertikaian akan hilang. Karena perselisihan muncul ketika sebagian orang, meskipun sadar, menjauh dari jalan kebenaran akibat keserakahan.”
Presiden Iran menyebut esensi ajaran agama sebagai rahmat, kejujuran, dan penghormatan terhadap hak-hak manusia, dan menegaskan pengulangan sifat ‘Ar-Rahman’ dan ‘Ar-Rahim’ di awal ibadah mengingatkan perlunya manifestasi konsep-konsep ini dalam perilaku sosial dan manajerial.
Dengan meninjau tantangan yang dihadapi negara sejak awal Revolusi Islam, Pezeshkian mengatakan, sejak hari-hari pertama perjuangan kemerdekaan bangsa Iran, konspirasi, perselisihan, dan perang yang dipaksakan telah dibebankan kepada negara, dan putra-putra terbaik tanah ini mengorbankan nyawa mereka untuk membela keadilan dan integritas teritorial.
Pezeshkian, dengan mengacu pada pesan Nabi Islam (SAW) dalam Pembebasan Makkah, mendefinisikan takwa sebagai pemikiran, ucapan, dan perilaku yang benar. Dia menekankan keberagamaan yang sejati tidak hanya terbatas pada ibadah individual, dan tanggung jawab, kejujuran, serta penghormatan terhadap hak-hak rakyat adalah kriteria utama takwa.
“Agresi, perampasan sumber daya, dan pembantaian orang tak bersalah dibenarkan dengan slogan-slogan seperti demokrasi dan hak asasi manusia, padahal perilaku ini jelas-jelas tidak adil,” ujar Pezeshkian seraya mengritik standar ganda kekuatan-kekuatan global.
Presiden Iran, menuturkan bahwa kebijakan prinsipil Republik Islam Iran adalah persatuan, kohesi, dan pelayanan kepada rakyat. “Bangsa Iran, terlepas dari perbedaan-perbedaan, akan bekerja sama untuk membangun negara yang makmur dan terhormat.”






