AUTENTIKWOMAN.Com– Presiden Kolombia, Gustavo Petro menggebrak podium Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat menyampaikan pidato terakhir ‘cukup berkata-kata’ atas genosida di Gaza yang mengharukan di hadapan para pemimpin, kepala negara dan delegasi dunia. Petro yang menjabat Presiden Kolombia sejak 2022 akan mengakhiri jabatannya pada tahun depan.
sumber : youtube
Dalam pidatonya di Sidang Umum ke-80 PBB yang viral, Petro dengan keras menyebut Israel telah melakukan genosida di Gaza atas ‘persetujuan’ Amerika Serikat di bawah kendali Presiden Donald Trump, dan turut menyalahkan NATO sebagai kaki tangan genosida di Gaza.
“Trump tidak berbicara tentang demokrasi, ia tidak berbicara tentang krisis iklim, ia tidak berbicara tentang kehidupan, ia hanya mengancam dan membunuh serta membiarkan puluhan ribu orang terbunuh. Tidak ada ras yang unggul, Tuan-tuan. Tidak ada umat pilihan Tuhan. Bukan Amerika Serikat atau Israel. Fundamentalis sayap kanan yang bodoh berpikir demikian. Umat pilihan Tuhan adalah seluruh umat manusia,” kata Petro dalam potongan pidato dikutip dari akun Instagramnya@gustavopetrourrego, Kamis, 25 September 2025.
“Dia menjadi kaki tangan dalam genosida, karena itu adalah genosida, dan kita harus meneriakkannya berulang-ulang. Majelis ini adalah saksi bisu dan kaki tangan genosida di dunia saat ini,” seraya menambahkan bahwa negara-negara yang tak lagi memiliki kekuatan berkumpul di sini. Seberapa pun mereka bersikap, mereka telah diabaikan.
“Kita harus berubah sekarang. Pertama-tama kita harus menghentikan genosida Gaza. Umat manusia tidak boleh membiarkan genosida terjadi lagi, atau genosida Netanyahu atau sekutunya di Amerika Serikat dan Eropa, membiarkan mereka bebas.”
Seruan Petro untuk ‘cukup berkata-kata’ diperumit oleh fakta bahwa sekutu Israel, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat—yang sebagian besar mempersenjatai genosida Israel—memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB.
“Diplomasi telah mengakhiri perannya, Tuan-tuan, dalam kasus Gaza. Ia tidak mampu menyelesaikannya. Genosida harus dihentikan dengan apa yang mengikuti diplomasi, dengan suara Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan bukan dengan suara (veto) Dewan Keamanan, melainkan dengan Persatuan untuk Perdamaian Palestina, yang membentuk kekuatan bersenjata untuk membela kehidupan rakyat Palestina,” kata Petro Petro menyerukan intervensi bersenjata internasional untuk mengakhiri genosida Israel yang telah berlangsung hampir dua tahun di Gaza.
“Kita membutuhkan pasukan yang kuat dari negara-negara yang tidak menerima genosida, “ujar Petro, yang berada di tahun terakhir masa jabatannya dan dibatasi oleh hukum Kolombia untuk satu masa jabatan presiden, kepada para pemimpin dunia yang berkumpul di New York.
“Itulah sebabnya saya mengundang negara-negara di dunia dan rakyatnya, lebih dari segalanya, sebagai bagian integral dari kemanusiaan, untuk menyatukan senjata dan pasukan,”
“Kita harus membebaskan Palestina,” tegasnya.
“Saya mengundang pasukan Asia, bangsa Slavia yang hebat yang mengalahkan Hitler dengan kepahlawanan yang luar biasa, dan pasukan Amerika Latin Bolívar.”
“Kita sudah cukup bicara, saatnya untuk pedang kebebasan atau kematian Bolívar,” tegas Petro, sembari menekankan bahwa mereka (Israel dan sekutu) tidak hanya akan mengebom Gaza, tetapi juga seluruh umat manusia yang menuntut kebebasan.
Petro berpendapat, merujuk pada pahlawan kemerdekaan Amerika Latin abad ke-19, Simón Bolívar.
“Karena mereka tidak hanya akan mengebom Gaza, seperti yang telah mereka lakukan di Karibia, tetapi juga kemanusiaan, yang menyerukan kebebasan. Karena dari Washington dan NATO mereka membunuh demokrasi dan melahirkan kembali tirani dan totalitarianisme di tingkat global,” ungkapnya.
Seruan Presiden Gustavo Petro untuk intervensi bersenjata di Palestina menggemakan seruan serupa dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang mengatakan bahwa negaranya bersedia menyediakan 20.000 tentara untuk pasukan bersenjata yang dapat dikerahkan di Gaza.
“Indonesia siap mengerahkan 20.000 atau bahkan lebih putra dan putri kita untuk membantu menjamin perdamaian di Gaza atau di tempat lain. Indonesia akan untuk terus berperan dalam aksi perdamaian,”ujar Presiden Prabowo di hadapan sidang majelis umum PBB, New York, pada Selasa.
Delegasi Amerika Serikat meninggalkan aula Majelis Umum sebagai tanda protes terhadap kritik Presiden Kolombia terhadap mitranya dari AS, Donald Trump.






