Koalisi Baru Sunni di Irak, Menuju Persatuan Politik atau Pengulangan Siklus Perpecahan?

AUTENTIKWOMAN.Com– Lima arus utama politik Sunni Irak dengan membentuk “Dewan Nasional Politik” berupaya memperkuat bobot politik mereka di parlemen baru, tapi pengalaman perpecahan sebelumnya dan peran aktor-aktor asing menimbulkan pertanyaan serius tentang ketahanan koalisi ini.

Pengumuman pembentukan “Dewan Nasional Politik” oleh lima arus utama Sunni di Irak menandai sebuah titik penting baru dalam konfigurasi kekuasaan parlementer negara ini.

Koalisi yang mencakup kelompok Taqaddum, Azem, Jumhur Al-Watani, Al-Hasm, dan Al-Siyada, dipandang sebagai upaya untuk menciptakan versi baru yang serupa dengan “Kerangka Koordinasi Syiah” di kubu Sunni. Sebuah upaya yang bertujuan membangun kesatuan sikap, meningkatkan daya tawar, dan memperoleh posisi-posisi kunci dalam pemerintahan dan parlemen.

Kendati demikian, rekam jejak perpecahan mendalam di antara para pemimpin Sunni membuat masa depan koalisi ini diragukan. Pengalaman pemilu 2021 menunjukkan bagaimana perbedaan personal dan persaingan sengit antara tokoh-tokoh seperti Mohammed Al-Halbousi dan Khamis Khanjar dapat menggagalkan setiap bentuk koalisi. Sesuatu yang kembali terlihat dalam kritik Jamal Al-Karboli, ketua Partai Al-Hal dan sekutu politik Koalisi Al-Hasm (Thabit Al-Abbasi), yang menilai salah satu anggota koalisi sebagai “tidak dapat dipercaya”.

Menurut laporan IRNA, keterlibatan Turki juga merupakan salah satu variabel yang memengaruhi proses konsolidasi Sunni. Pengiriman pejabat keamanan tinggi Ankara ke Baghdad setelah pengumuman hasil pemilu, serta upaya untuk mengelola perbedaan internal, menunjukkan betapa pentingnya front ini bagi Turki, meski tingkat keberhasilan dan keberlanjutan pengaruhnya dalam menjaga soliditas koalisi baru tersebut masih belum jelas.

Dewan Nasional Politik kini menguasai 60 dari total 75 kursi Sunni dan berupaya menarik kelompok-kelompok kecil lainnya untuk memperkuat posisinya. Namun, jika dibandingkan dengan 187 kursi yang dikuasai Kerangka Koordinasi Syiah, terlihat bahwa untuk menjadi blok yang benar-benar berpengaruh, kubu Sunni memerlukan konsolidasi yang stabil dan harus menjauhi ketegangan internal.

Pada akhirnya, meskipun pembentukan “Dewan Nasional Politik” dapat dianggap sebagai langkah besar menuju peningkatan kehadiran politik Sunni, keberlanjutannya tetap bergantung pada kemampuan para pemimpinnya menyingkirkan rivalitas personal serta mengadopsi pendekatan yang realistis dalam dinamika politik internal maupun nasional Irak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *