Kebijakan Pelucutan Senjata Hizbullah dan Hamas Bukti Kegagalan Pentagon Fokus di Asia Barat

AUTENTIKWOMAN.Com- Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) menyatakan berupaya mengurangi jumlah pasukan Amerika di Asia Barat, penempatan mendadak ribuan tentara di Irak, serangan berdarah terhadap pasukan Amerika di Suriah, serta perubahan kebijakan Washington dari pelucutan total senjata Hizbullah dan Hamas menjadi pengendalian praktis atas persenjataan mereka, telah menyulut ketegangan di kawasan.

Pada Desember 2025, kebijakan militer Amerika di Asia Barat memasuki tahap baru. Pentagon mengajukan rencana untuk menurunkan tingkat komando pusat (CENTCOM) dan memusatkan perhatian pada belahan bumi Barat, sementara tantangan di lapangan seperti keberadaan pasukan Amerika di Suriah dan penempatan pasukan baru di Irak tetap berlanjut. Perkembangan ini, disertai perubahan kebijakan terkait pelucutan senjata Hizbullah dan Hamas, mencerminkan upaya Washington untuk menyesuaikan kehadiran militernya sekaligus mengelola ancaman yang masih tersisa.

Berikut perkembangan terbaru kebijakan militer Amerika di Asia Barat.

Restrukturisasi Komando; Pengurangan Fokus di Asia Barat

Pentagon telah menyiapkan sebuah rencana besar untuk mengubah keseimbangan kekuatan dalam tingkatan militer Amerika Serikat. Menurut laporan Washington Post, rencana ini mencakup penurunan status Komando Pusat (CENTCOM), Komando Eropa, dan Komando Afrika dengan menempatkan mereka di bawah sebuah komando internasional baru. Pada saat yang sama, Komando Utara dan Selatan akan digabung menjadi “Komando Amerika.”

Perubahan ini, yang didukung oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth, diumumkan dengan tujuan mengurangi kehadiran militer di Asia Barat dan Eropa. Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan, akan menyampaikan rincian rencana tersebut kepada Hegseth. Rencana ini berpotensi mengurangi jumlah komando tempur dari 11 menjadi 8, menjadikannya salah satu reformasi struktural terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Namun, Kongres Amerika telah menyuarakan kekhawatiran mengenai kurangnya konsultasi yang memadai dalam proses ini.

Penguatan Terbatas Kehadiran Militer Amerika di Pangkalan “Ain al-Asad” Irak

Meskipun terdapat tren umum pengurangan pasukan Amerika di Asia Barat, laporan menunjukkan penempatan sekitar 1.500 tentara baru di pangkalan Ain al-Asad di Provinsi Anbar, Irak. Sumber-sumber lokal menilai langkah ini tidak jelas, terutama mengingat stabilitas keamanan relatif di Irak. Sebelumnya, kesepakatan dengan Baghdad untuk keluar dari sejumlah pangkalan telah dilaksanakan hingga September 2025, namun perubahan regional seperti jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah mungkin telah menyebabkan keberadaan pasukan terbatas tetap dipertahankan. Sementara itu, para pakar Irak memperingatkan bahwa Amerika dapat memanfaatkan kamp al-Hawl di Suriah untuk menciptakan ketidakstabilan di Irak, tempat ribuan anggota ISIS masih berada.

Serangan Mematikan di Palmyra, Suriah; Tantangan Kembalinya ISIS

Pertengahan Desember, dalam serangan terhadap pasukan Amerika di kota Palmyra, Suriah, beberapa tentara Amerika tewas. Penyerang yang terkait dengan ISIS juga terbunuh dalam baku tembak. Presiden Donald Trump mengecam serangan tersebut dan mengancam akan membalas pemerintahan Ahmad al-Joulani. Insiden ini, yang merupakan korban pertama Amerika setelah perubahan di Suriah, menyoroti ancaman kebangkitan kembali ISIS. Pasukan Amerika menyalakan langit dengan bom penerangan dan melakukan operasi penangkapan. Tom Barrack, utusan khusus Amerika untuk urusan Suriah, menegaskan bahwa misi mengalahkan ISIS tetap berlanjut dan setiap serangan  akan dihadapi dengan respons tegas.

Amerika Serikat menjauh dari gagasan pelucutan senjata total Hizbullah dan Hamas, dan beralih pada kebijakan pencegahan penggunaan senjata mereka. Laporan menyebutkan adanya usulan untuk melucuti senjata Hizbullah di Lebanon hingga akhir 2025, namun rincian tetap tidak jelas. Di Gaza, fase kedua gencatan senjata mencakup pembahasan pelucutan senjata Hamas, tetapi pejabat Israel menilai hal itu tidak realistis.

Tom Barrack, utusan khusus Amerika untuk urusan Suriah, juga menyatakan keprihatinan atas tindakan Israel di Suriah. Perkembangan ini menunjukkan strategi Amerika untuk mengurangi komitmen jangka panjang di Asia Barat, sembari mengelola ancaman-ancaman langsung, sementara tantangan tetap ada dalam menjaga stabilitas menghadapi ISIS dan kelompok-kelompok perlawanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *