AUTENTIKWOMAN.Com– Hasil dua survei yang dilakukan di wilayah pendudukan menunjukkan bahwa lebih dari separuh warga Zionis meyakini rezim Israel gagal menjamin keamanan mereka, sementara tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga politik dan keamanan mengalami penurunan tajam.
Pada hari-hari terakhir tahun 2025, dua lembaga riset rezim Zionis—yakni Israel Democracy Institute dan Institute for National Security Studies (INSS)—melaksanakan survei yang hasilnya bertentangan dengan keinginan dan kebijakan Benjamin Netanyahu, perdana menteri rezim Zionis.
Berdasarkan temuan tersebut, meskipun militer dan kabinet Israel telah mengeluarkan biaya besar untuk menghadapi ancaman internal dan eksternal, tingkat rasa aman di kalangan penduduk wilayah pendudukan turun hingga di bawah 30 persen.
Israel Democracy Institute melaporkan bahwa hanya 46 persen warga Israel yang percaya rezim tersebut berhasil menjamin keamanan dalam negeri, padahal angka ini pada tahun 2020 mencapai sekitar 80 persen. Penurunan ini mencerminkan berlanjutnya kekhawatiran keamanan dan ancaman nyata dalam kehidupan sehari-hari para pemukim, mulai dari kemungkinan perang dengan Hizbullah, pemulihan kekuatan Hamas, hingga reaksi warga Palestina di Tepi Barat Sungai Yordan dan operasi perlawanan di dalam wilayah pendudukan.
Di sisi lain, hasil survei juga menunjukkan tingginya tingkat rasisme di Israel. Sebanyak 45 persen Yahudi Zionis menentang integrasi warga Arab dalam masyarakat, dan 53 persen mendukung kebijakan mendorong migrasi warga Arab keluar dari wilayah pendudukan. Dukungan terhadap partisipasi partai-partai Arab dalam kabinet rezim juga menurun, dari 37 persen pada tahun 2023 menjadi 27 persen pada tahun 2025.
Selain itu, Biro Pusat Statistik rezim Zionis melaporkan bahwa dalam sembilan bulan pertama tahun lalu, neraca migrasi bersifat negatif. Dari sekitar 17.500 orang yang masuk ke wilayah pendudukan, hampir 48.000 orang meninggalkannya—kebanyakan dari mereka adalah kalangan muda dan tenaga ahli.
Ketidakpuasan terhadap kinerja struktur pemerintahan juga tampak jelas dalam survei ini. Tingkat kepercayaan terhadap kepala rezim turun dari 62 persen pada tahun 2022 menjadi 39 persen. Kepercayaan terhadap kabinet hanya 22 persen, terhadap Knesset 17 persen, dan terhadap partai-partai politik hanya 10 persen.
Sementara itu, survei yang dilakukan oleh Institute for National Security Studies menunjukkan bahwa hanya 27,5 persen pemukim yang menilai kondisi keamanan saat ini sebagai baik atau sangat baik. Angka ini mencapai 31 persen di kalangan Yahudi, namun hanya 15 persen di kalangan warga Arab.
Dengan kondisi tersebut, pandangan penduduk wilayah pendudukan terhadap masa depan keamanan dalam negeri bersifat hati-hati. Sebanyak 21 persen memperkirakan situasi akan memburuk, 28 persen tidak memperkirakan perubahan signifikan, dan 15 persen tidak memberikan jawaban.






