AUTENTIKWOMAN.Com– Seorang mantan petugas intelijen di Marinir AS Scott Ritter dan mantan inspektur senjata PBB, dalam analisisnya tentang negosiasi antara Iran dan AS, menekankan bahwa Trump lebih membutuhkan negosiasi ini daripada Iran.
Scott Ritter, memperingatkan bahwa Barat selalu berusaha merusak fondasi budaya dan sosial Iran melalui agen intelijensinya dan dengan menggunakan jalur informasi-komunikasi yang kurang terkendali, mereka telah menyusup di antara sebagian orang Iran yang berorientasi Barat dan merekrut agen dari kalangan mereka.
Rudal Bukan Alat Serangan Utama Iran
Dengan merujuk pada pernyataan pejabat AS mengenai pembatasan jangkauan rudal balistik Iran, menjelaskan bahwa syarat ini pada dasarnya setara dengan “pelucutan senjata” dan permintaan “bunuh diri strategis” dari Republik Islam Iran.
Dia menegaskan bahwa rudal bukanlah alat serangan utama bagi Iran, tetapi merupakan pilar utama pencegahan dan jaminan kelangsungan hidup. Setiap kerangka yang ingin menghilangkan pilar ini secara praktis akan membuat Iran tak berdaya terhadap opsi militer dari Israel. Dia berpendapat, jika Iran mengurangi jangkauan rudalnya hingga tidak dapat lagi menyerang Israel, Israel akan menyerang Iran tanpa rasa takut akan pembalasan.
Kelemahan Strategis AS dalam Perang dengan Iran
Analis Amerika ini menegaskan bahwa alasan utama AS menghindari perang dengan Iran adalah kombinasi dari kelemahan strategis dan pertimbangan politik domestik yang besar. Dia mengatakan bahwa AS tidak dapat memberikan “serangan yang menentukan” kepada Iran, dan setiap serangan militer akan mendorong Iran untuk memberikan respons yang bisa menghancurkan Israel serta menimbulkan biaya besar bagi pasukan dan kepentingan AS.
Oleh karena itu, Ritter menekankan bahwa perang dengan Iran dalam kondisi ini tidak hanya tidak akan memberikan keuntungan strategis bagi AS, tetapi bisa menjadi bencana politik domestik bagi Trump. Ritter juga menyatakan bahwa perang terhadap Iran hanya akan dilakukan untuk mempertahankan kepentingan Israel dan menjelaskan bahwa setiap kemungkinan konfrontasi militer AS dengan Iran pada dasarnya adalah “perang pilihan,” bukan perang pertahanan yang disebabkan oleh ancaman langsung.
Negosiasi, Sebuah Jebakan
Mantan petugas intelijen AS ini menyarankan Iran untuk terlibat dalam negosiasi, bukan karena kelemahan, tetapi untuk menutup jalan bagi pembuatan alasan politik di Washington. Namun, dia memperingatkan bahwa pejabat Iran harus selalu menganggap bahwa negosiasi adalah “sebuah jebakan.” Ritter mengatakan bahwa Iran, sambil mempertahankan saluran diplomatik, harus menjaga pasukan militer dan badan intelijensinya dalam keadaan siaga penuh. Scott Ritter melihat insiden-insiden laut baru-baru ini bukan sebagai tanda superioritas atau agresi dari AS, tetapi sebagai refleksi dari ketakutan strategis Washington terhadap kemampuan anti-akses dan anti-region Iran. Ritter menekankan bahwa kapal induk Amerika telah menjadi sistem yang “usang” di hadapan generasi baru rudal presisi, manuver, dan hipersonik Iran.
Ancaman Utama: Perang Pikiran untuk Keruntuhan dari Dalam
Di akhir, Scott Ritter menyebutkan konsep yang disebut “perang pikiran”; sebuah perang yang menurutnya jauh lebih berbahaya daripada konfrontasi militer langsung, karena tujuannya adalah untuk meruntuhkan sebuah masyarakat dari dalam tanpa menembakkan satu peluru pun. Ritter menjelaskan bahwa jenis perang ini bergantung pada alat-alat gabungan budaya, psikologis, informasi, dan sosial, dan prasyarat utama keberhasilannya adalah “koneksi yang luas dan tidak terkendali” dengan aliran data, jaringan komunikasi, dan ruang intelektual internasional.






